07 Agustus 2017•Update: 07 Agustus 2017
Alex Jensen
SEOUL
Presiden Korea Selatan (Korsel) Moon Jae-in dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berjanji akan meningkatkan tekanan terhadap Korea Utara (Korut) terkait program senjatanya, kata juru bicara kepresidenan Korsel.
Dalam percakapan telepon selama 56 menit, presiden sepakat untuk “memberi tekanan dan sanksi kepada Korut dengan bekerja sama dengan masyarakat internasional agar Korea Utara menghentikan program nukir dan rudalnya”.
Kantor Berita Yonhap melaporkan bahwa Presiden Moon mengatakan kepada utusannya di Seoul bahwa ia dan Trump “telah menegaskan bahwa denuklirisasi Semenanjung Korea harus dicapai dengan cara-cara damai.”
Ia menambahkan, militer Korsel memiliki kemampuan untuk melawan segala jenis provokasi yang mengancam. Sekitar 28.500 pasukan AS yang berbasis di Korsel berada di bawah aliansi militer.
Diskusi dengan Trump dilaksanakan menyusul pemberlakuan sanksi baru Dewan Keamanan PBB terhadap Korut yang bertujuan untuk menekan dana Pyongyang untuk pengembangan senjata.
Bulan lalu, Korut melaksanakan uji coba rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dapat menyerang AS. Lewat media sosial, Trump mengatakan bahwa ia sangat senang dan terkesan dengan keputusan bulat Dewan Keamanan.
Moon menambahkan, “Saya berharap Korut akan memahami penyelesaian sanksi terbaru adalah tekad yang kuat dari masyarakat internasional dan memilih langkah untuk berdialog,” katanya kepada Yonhap.
Pyongyang belum menanggapi secara positif upaya Seoul untuk berdialog, sejak Moon terpilih pada Mei. Pyongyang bersikeras bahwa penambahan sanksi tidak akan membuat Pyongyang menghentikan program senjata nuklirnya.
“Kami siap mengambil langkah yang lebih besar untuk membuat AS menyesal,” pemerintah mengatakan dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Berita Pusat Korea.
Pernyataan yang dirilis tersebut tampak menghilangkan harapan untuk berdialog, meskipun Korut akan mendapat sanksi yang dapat mengurangi pendapatan ekspornya dari USD 3 miliar menjadi USD 2 miliar.
Menlu Korut memberi klarifikasi mengenai sikap negaranya dalam pertemuan singkat dengan utusan Korea Selatan, Kang Kyung-hwa, Minggu. Saat ini kedua menlu sedang berada di Manila untuk pertemuan ASEAN.