Rhany Chairunissa Rufinaldo
03 September 2018•Update: 03 September 2018
Hussein Elkabany
KAIRO
Liga Arab pada Minggu meminta bentrokan antara milisi yang bertikai di Ibu Kota Libya, Tripoli, segera dihentikan.
Sekretaris Jenderal Ahmed Aboul Gheit melalui sebuah pernyataan mengatakan bahwa dia "mengutuk keras eskalasi yang serius dalam situasi keamanan di Ibu Kota Libya, Tripoli, sebagai akibat dari bentrokan bersenjata yang terus berlanjut".
Dia melanjutkan dengan memperdebatkan "kebutuhan untuk menghentikan segera permusuhan dan kepatuhan terhadap pengaturan gencatan senjata serta tindakan oleh Dewan Presiden dari Pemerintah Kesepakatan Nasional."
Reaksi serupa telah juga muncul dari PBB dan Kementerian Luar Negeri Turki.
Sejak Minggu lalu, 38 orang tewas dalam kekerasan yang pecah antara milisi yang bersekutu dengan pemerintah kesatuan yang didukung PBB di tenggara Tripoli.
Kekerasan meletus setelah Pasukan Infanteri 7 yang berafiliasi dengan Kementerian Pertahanan menuduh Brigade Revolusi Tripoli, yang selaras dengan Kementerian Dalam Negeri menyerang posisi mereka di Tripoli selatan.
Libya telah dirundung kekacauan sejak 2011, ketika pemberontakan berdarah yang didukung NATO menyebabkan kematian sang penguasa Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Sejak saat itu, divisi politik Libya yang keras telah melahirkan dua kursi kekuasaan yang bersaing -- satu di Tobruk dan satu lagi di Tripoli -- dan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.