13 September 2017•Update: 13 September 2017
Hajer M'tiri
PARIS
Presiden Prancis Emmanuel Macron, Selasa, mengunjungi wilayah Saint Martin dan Saint Barthelemy, di Kepulauan Karibia, Prancis, yang dihantam Badai Irma pekan lalu.
Menjelang kedatangannya di Guadeloupe, Macron mengatakan kepada wartawan bahwa negaranya telah "menempatkan pengangkat udara terbesar sejak Perang Dunia II", dan menambahkan bahwa mengembalikan keadaan ke kondisi semula adalah "prioritas utama".
Sekitar 40.000 jiwa tinggal di St. Martin, di sisi Prancis, dan jumlah yang sama pula tinggal di sisi Belanda. Pulau kecil tersebut adalah salah satu wilayah yang pertama kali dilanda angin kencang dan hujan, hingga menewaskan empat jiwa dan mengakibatkan kerusakan parah.
Sebanyak sekitar 9.000 jiwa tinggal di St. Barts, yang sebagian besarnya bertahan hidup tanpa tempat berlindung.
Kunjungan Macron dilakukan ketika pemerintahnya dikritik karena tidak siap menghadapi bencana tersebut dan bereaksi lambat.
Ia mengatakan bahwa ia "mendukung" pembentukan komite penyelidikan parlemen dan "pemerintah harus menjawab tindakannya di hadapan parlemen".
Macron kemudian menuju ke St. Barts dengan helikopter untuk meninjau kerusakan, sementara pihak berwenang dan badan bantuan mengupayakan pengiriman persediaan makanan dan minuman.
Perdana Menteri Edouard Philippe, Senin, mengungkap rencana rekonstruksi pemerintah untuk kepulauan tersebut. Ia menyebutkan bahwa mengembalikan jaringan air seperti semula akan memakan waktu tiga bulan.
Sekitar 278 warga yang selamat dari Antilles Prancis tiba di Bandar Udara Charles de Gaulle, Prancis, Senin, diangkut dengan sebuah pesawat militer dari Guadeloupe.
Sejauh ini, bencana alam di Kepulauan Karibia telah menewaskan dua lusin korban jiwa, dan 10 di antaranya berada di wilayah Prancis.