12 September 2017•Update: 12 September 2017
Hajer M'tiri
PARIS
Ratusan ribu warga Prancis turun ke jalan di lebih dari 200 kota di sekeliling negara pada Selasa untuk ikut serta demonstrasi yang diselenggarakan oleh CGT, organisasi buruh terbesar negara tersebut. Massa memprotes reformasi buruh yang didukung oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Aksi mogok kerja oleh pekerja di berbagai sektor juga diperkirakan akan mengganggu layanan transportasi umum, energi dan pendidikan dengan keikutsertaan serikat guru dan murid dalam demonstrasi.
Namun serikat-serikat besar lainnya, seperti CFDT dan FO, tidak ikut serta dalam protes.
Perdana Menteri Edouard Philippe bulan lalu mengumumkan 36 poin reformasi yang akan ditetapkan dalam 5 tahap.
Rencana itu akan memberikan fleksibilitas lebih bagi perusahaan mendikte gaji dan kondisi kerja; membolehkan bisnis kecil dengan kurang dari 20 staf bernegosiasi langsung tanpa serikat pekerja; memberikan kebebasan lebih pada perusahaan untuk mempekerjakan dan memecat; dan membatasi pesangon bagi pemecatan yang tidak adil.
Bagi Macron dan Philippe, RUU itu dikeluarkan untuk merubah peraturan kerja di Prancis yang sebanyak 3.500 halaman. Philippe Martinez dari serikat buruh CGT mengatakan reformasi itu bagai "kudeta sosial".
Prancis memiliki tingkat pengangguran sebanyak 9,5 persen, dua kali lipat negara-negara Eropa besar lainnya seperti Jerman. Macron berjanji menurunkan angka itu menjadi 7 persen sebelum 2022.
Reformasi itu harus pertama disetujui Majelis Nasional, yang mayoritas dikuasai partai Macron, pada 22 September.
Jajak pendapat pada Senin menunjukkan 57 persen warga mendukung demonstrasi hari Selasa. Persentase mayoritas itu kurang dari jumlah pendukung demonstrasi pertama yang mendapat persetujuan sekitar 65 persen warga.
Pihak oposisi yang dipimpin politisi Jean-Luc Melenchon menjadwalkan protes berikutnya pada 23 September.