Maria Elisa Hospita
17 April 2018•Update: 18 April 2018
Hajer M'tiri
PARIS
Presiden Emmanuel Macron pada Senin mengklarifikasi bahwa dia "tidak pernah menyatakan Amerika Serikat atau Prancis akan tetap terlibat secara militer di Suriah dalam jangka panjang".
Pernyataan itu muncul setelah dia diberitakan telah meyakinkan Presiden AS Donald Trump untuk membiarkan pasukan militernya untuk tetap berada di Suriah.
Juru bicara Gedung Putih Sarah Sanders mengatakan, "Misi AS tidak berubah. Presiden dengan jelas menyatakan bahwa dia ingin pasukan AS pulang sesegera mungkin,"
Dalam konferensi pers gabungan dengan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern pada Senin, Macron mengatakan kehadiran militer Paris dan Washington di Suriah "akan berakhir saat perang melawan Daesh selesai".
Dia menambahkan bahwa sikap Prancis dan AS sejalan, dan tujuan utama dan satu-satunya di Suriah adalah "perang melawan Daesh".
Menurut Macron, setelah bergabung dengan Prancis dan Inggris dalam serangan udara pada Sabtu lalu, AS "sepenuhnya menyadari bahwa tanggung jawab kami ternyata melampaui perang melawan Daesh, yakni tanggung jawab kemanusiaan".
Sabtu lalu, Prancis, AS, dan Inggris secara bersamaan melancarkan serangkaian serangan militer terhadap rezim Bashar al-Assad di Douma, Ghouta Timur.