Maria Elisa Hospita
14 November 2019•Update: 15 November 2019
Ayhan Şimşek
BERLIN
Ekspor senjata Jerman ke Mesir dan Uni Emirat Arab (UEA) telah meningkat secara signifikan selama paruh pertama tahun ini meskipun kedua negara itu terlibat dalam konflik Yaman.
Menurut sebuah laporan ekspor senjata pemerintah yang dirilis pada Rabu, Mesir telah menjadi pelanggan terbesar kedua industri senjata Jerman dengan pembelian € 800 juta ($ 880 juta).
UEA menduduki peringkat keenam sebagai pelanggan terbesar dengan pembelian lebih dari € 206 juta (USD226 juta).
Tahun lalu, pemerintah koalisi konservatif-kiri Kanselir Angela Merkel berjanji untuk menghentikan ekspor senjata ke negara-negara yang memiliki campur tangan dalam perang saudara Yaman.
Namun, sejak itu, pemerintah koalisi mendapat kecaman keras dari pihak oposisi karena melanjutkan pengiriman senjata ke Arab Saudi, Mesir, dan Amerika Serikat.
Penjualan senjata ke Turki
Sementara itu, ekspor senjata Jerman ke mitra NATO-nya, Turki, masih berada pada tingkat yang sangat rendah selama paruh pertama tahun ini.
Berlin menyetujui penjualan senjata senilai hampir € 26 juta (USD28,6 juta) ke Ankara, jauh di bawah ekspor Jerman ke Aljazair (USD187,03 juta), Kuwait (USD81,39 juta), dan India (USD51,69 juta).
Sejak tahun lalu, pemerintah Jerman membatasi penjualan senjata ke Turki, setelah Turki meluncurkan operasi militer melawan kelompok-kelompok teroris YPG/PKK dan Daesh di utara Suriah.
Dalam kampanye terornya melawan Turki selama lebih dari 30 tahun, PKK - yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat, dan Uni Eropa - bertanggung jawab atas kematian 40.000 jiwa, termasuk perempuan, anak-anak, dan bayi. YPG adalah cabang Suriah PKK.