Iftikhar Gilani
Penulis adalah kepala koresponden di Anadolu Agency Bahasa Inggris
ANKARA
Segera setelah banyak media arus utama India melancarkan serangan habis-habisan terhadap Jamaah Tablig dengan menuduh markas besar mereka di Delhi menyebarkan virus korona, asosiasi kesejahteraan penduduk (RWA) di daerah saya di Delhi Selatan, tempat tinggal sebagian besar kelompok berpenghasilan menengah, melarang masuknya penjual sayur dan pekerja kasar lainnya.
Pesan WhatsApp oleh sekretaris RWA tidak menggunakan istilah "untuk memboikot umat Islam", tetapi semua orang tahu semua yang dilarang itu dari kelompok agama Islam. Di banyak perumahan lainnya, RWA blak-blakan dalam pesan mereka. Seorang teman yang tinggal di daerah mewah di pinggiran Delhi mengatakan RWA mereka mengarahkan semua anggota untuk tidak menrima tamu Muslim sampai pandemi COVID-19 berakhir.
Laporan-laporan komunalisasi pandemi mengalir dari berbagai bagian negara. Pekan lalu, seorang pria Muslim berusia 22 tahun digantung di New Delhi setelah dituduh menyebarkan pandemi. Sebelumnya, seorang pemuda Muslim lainnya dipukuli hingga mati di negara bagian Jharkhand timur setelah massa menuduhnya meludah. Sayap kanan Hindu sedang menciptakan tren bentuk kesenangan sadis seperti “Jihad Korona" dan "Virus Tablig", dan kebencian yang ditimbulkan oleh unggahan semacam itu, hanya sedikit yang menyadari bahwa virus itu tidak mengenal agama.
Di Israel, perilaku para pemukim Yahudi dan tentara Israel yang tertangkap kamera meludahi pintu-pintu rumah-rumah Arab dan membuang limbah medis di daerah-daerah Palestina telah meningkatkan tingkat kebencian pada proporsi baru.
Lebih dari satu dekade yang lalu, Paul Silverstein, seorang antropolog di Reed College di kota Portland, Oregon, Amerika Serikat, menulis tentang kenyataan bagi umat Islam.
“Dengan mengganti Muslim dengan Yahudi, Anda akan mendapatkan definisi anti-Semitisme yang relatif bisa digunakan. Muslim adalah objek dari serangkaian stereotip, karikatur dan ketakutan yang tidak didasarkan pada kenyataan dan tidak tergantung pada pengalaman seseorang dengan [mereka]," ujar dia.
Kevin Sachs, distributor film Kanada kelahiran Zurich, percaya bahwa pertanyaan Muslim kontemporer hampir identik dengan pertanyaan Yahudi abad ke-19 dan awal ke-20. Tuduhan-tuduhan yang sering dibuat terhadap Islam - bahwa tradisi Islam tampaknya monolitik, tidak toleran, primitif dan lebih rendah daripada Barat - sama dengan filsuf Jerman terkenal Bruno Bauer yang menulis tentang orang Yahudi pada 1844. Dia berargumen menentang hak yang sama bagi orang Yahudi. Sebaliknya, pada tahun yang sama, Kekaisaran Ottoman mengeluarkan Dekrit Toleransi, mengurangi pembatasan pada orang Yahudi di Palestina. Voltaire, seorang penulis, sejarawan dan filsuf Prancis abad ke-18, juga menggambarkan Yudaisme sebagai agama yang terbelakang, tidak tercerahkan, dan tidak toleran.
Pada pertengahan abad ke-14, ketika wabah menginfeksi sepertiga populasi Eropa, desas-desus menyebar liar bahwa orang-orang Yahudi meracuni sumur untuk menyebarkan penyakit. Itu menyebabkan pembantaian ribuan orang Yahudi. Banyak desa Yahudi dihancurkan. Komunalisasi pandemi telah digunakan secara efektif di barat untuk menargetkan orang-orang Yahudi.
Baru-baru ini, ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada delegasi dokter bahwa "sayangnya instruksi tidak dipatuhi secara ketat di sektor Arab," dia lupa bagaimana Haredi Yahudi - sebuah kelompok dalam Yahudi Ortodoks, dikenal karena interpretasi mereka yang ketat terhadap Yudaisme dan oposisi terhadap nilai-nilai dan praktik-praktik modern - mengokohkan kekuasaannya dengan menolak mematuhi norma-norma sosial dan karantina yang menjauhi sosial. Pemerintahnya menggambarkan lingkungan Yahudi Haredi sebagai titik panas.
India menggunakan karantina wilayah untuk menghukum aktivis
Di India, ketika seluruh negara dikarantina, polisi menyerbu banyak aktivis muda yang berpartisipasi dalam protes hukum anti-kewarganegaraan selama beberapa bulan terakhir. Di antara mereka yang menonjol, Safoora Zargar, seorang siswa Jamia Millia Islamia, dipanggil untuk diinterogasi pada 10 April oleh Sel Khusus Kepolisian Delhi, dan kemudian ditangkap. Sebelum penangkapannya, Meeran Haider, seorang akademisi Jamia Millia Islamia, juga telah ditangkap.
Menurut penulis Karuna John, banyak siswa dan aktivis lainnya dipanggil untuk diinterogasi oleh Sel Khusus. Semua ini terjadi karena kehidupan di kota hampir terhenti di bawah karantina yang sekarang diperpanjang. Aktivis muda lainnya seperti Khalid Saifi dan Ishrat Jahan, yang ditangkap sesaat sebelum karantina, tetap di penjara. Setelah dikurung dan adanya risiko pandemi, mereka tidak dapat mengakses bantuan hukum karena pengadilan hanya berfungsi sebagian dan pengacara tidak dapat bekerja dengan baik.
Sebagian besar cendekiawan yang ditahan berada pada tahap akhir untuk mendapatkan gelar sarjana lanjutan mereka dan banyak dari mereka berasal dari negara bagian lain. Ini juga telah menempatkan beban emosional dan finansial yang besar pada keluarga mereka di rumah. Ini juga merupakan upaya untuk mencegah munculnya kepemimpinan masa depan di kalangan umat Islam.
Pada 10 April, saluran berita terkemuka India Today TV menyiarkan penyelidikan khusus yang menyebut seminari Islam atau Madrasah sebagai titik panas. Mereka menggunakan operasi sengatan terhadap tiga madrasah yang berbasis di Delhi, yaitu Madrasah Darul-ul-Uloom Usmania, Madrasah Islahul Mumineer dan Madrasah Jamia Mohammadia Haldoni.
Saluran itu mengklaim ketiga sekolah itu sengaja menahan siswa madrasah mereka di ruang sempit, melanggar semua pedoman karantina dan menyembunyikan siswa dari polisi. Mereka juga mengklaim bahwa penjaga memiliki hubungan dengan Jamaah Tablig - yang jemaahnya di Nizamuddin, Delhi, dipersalahkan oleh media India karena menyebabkan lonjakan dalam kasus virus korona - dan, oleh karena itu, mempertaruhkan nyawa anak-anak.
Namun setelah media lain seperti Newslaundry menangkal sengatan itu. Para siswa dari negara bagian Bihar timur seharusnya kembali ke rumah mereka. Tiket mereka sudah dipesan tetapi harus kembali karena terkunci. Pada 21 Maret, pemerintah telah menyarankan lembaga pendidikan untuk membiarkan siswa yang masih di asrama untuk tetap tinggal di sekolah sampai wabah Covid-19 dibendung. Madrasah-madrasah tersebut sebenarnya mengikuti nasihat itu dan tidak mengabaikan pedoman karantina.
Perkumpulan kelompok Hindu di London
Hampir bertepatan dengan perkumpulan Jamaah Tabligh di Delhi, sebuah kelompok Hindu Masyarakat Internasional untuk Kesadaran Krishna, yang dikenal sebagai gerakan Hare Krishna, mengadakan pertemuan di London pada 12-15 Maret. Sejauh ini, 21 jemaah yang menghadiri pertemuan ini telah dipastikan terinfeksi virus korona. Lima dari mereka meninggal dunia. Namun, pemerintah Inggris atau orang-orang di sana tidak mengkomunalisasikan virus dan tidak menyalahkan kelompok Hindu karena menyebarkan pandemi.
Selain menjatuhkan kesalahan pada irasionalitas atau Jamaah Tablig, yang seharusnya menghentikan pertemuan setelah wabah pandemi, peristiwa lain terjadi di India. Parlemen dengan 790 anggotanya bersidang hingga 23 Maret. Di negara bagian India tengah, Madhya Pradesh, drama politik terjadi untuk mengusir pemerintah yang dikuasai oposisi. Pada 20-23 Maret, para pekerja Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di provinsi Bhopal melakukan demonstrasi besar-besaran yang dihadiri oleh Ketua Menteri baru Shivraj Singh Chouhan dan para pemimpin senior BJP lainnya.
Pada 11 April, Chouhan mengatakan kepada Perdana Menteri Narendra Modi dalam sebuah konferensi video bahwa lonjakan kasus di negaranya disebabkan oleh orang-orang, yang telah kembali dari Delhi setelah menghadiri sidang Jamaah Tablig. Namun para pejabatnya membantah klaim itu. Media lokal menyalahkan tiga pejabat senior pemerintah karena menyebarkan virus, dengan menghadiri pertemuan dan melanggar pembatasan jarak sosial meskipun menunjukkan gejala penyakit.
Sekretaris Utama (Kesehatan) Pallavi Jain Govil, Direktur Tambahan Veena Sinha dan Wakil Direktur Virendra Kumar Chaudhary dinyatakan positif terkena virus pada 4 April. Anak-anak dari Govil dan Sinha kembali dari AS dan tidak mengungkapkan riwayat perjalanan mereka ke pihak berwenang.
Covid-19 memengaruhi kita semua dan mengancam kesehatan, ekonomi, sosial, psikologis dan kesejahteraan fisik kita bersama. Alih-alih mengkomunalisasikan pandemi dan mengidentifikasi virus dengan kepercayaan atau komunitas, ada kebutuhan mendesak untuk bekerja sama demi mengalahkan musuh bersama ini. Jika tidak tertangani, virus tidak akan mengenal keyakinan atau batasan. Semua kelompok agama, percaya atau tidak, sama-sama rentan terhadap bahaya virus. Mari kita bergandengan tangan dan berjuang keras untuk menyelamatkan umat manusia. Bantuan, bukan kebencian, akan mengalahkan virus.
*Opini yang dikemukakan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.
news_share_descriptionsubscription_contact

