Maria Elisa Hospita
02 Mei 2019•Update: 02 Mei 2019
Vakkas Dogantekin
ANKARA
Sebuah laporan PBB baru-baru ini menyoroti bencana kemanusiaan dan ekonomi akibat perang di Yaman dan bagaimana hal itu menghambat pembangunan di sana selama lebih dari 20 tahun.
Laporan yang disusun oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) menyoroti situasi kemanusiaan di sana, yang merupakan salah satu yang terburuk di dunia.
Yaman, yang dihuni oleh 30 juta penduduk, berada di peringkat 153 dalam Indeks Pembangunan Manusia (HDI), peringkat 138 dalam kemiskinan ekstrem, dan peringkat 147 dalam angka harapan hidup.
Para ahli bahkan meyakini bahwa Yaman tak akan mampu mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan oleh PBB, meskipun tanpa adanya konflik.
"Bahkan jika perdamaian dicapai besok, Yaman butuh puluhan tahun lagi untuk kembali ke situasi sebelum konflik," ujar Representatif UNDP untuk Yaman, Auke Lootsma.
Kematian anak-anak Yaman
Laporan UNDP memaparkan gambaran suram Yaman di masa depan. Yaman bahkan disebut-sebut sebagai zona konflik paling destruktif sejak Perang Dingin.
Jika konflik Yaman berakhir pada 2019, UNDP memproyeksikan konflik tersebut akan menyebabkan 140.000 kematian anak-anak di bawah usia lima tahun; 233.000 kematian (0,8 persen dari populasi 2019); 102.000 kematian akibat pertempuran; dan 131.000 kematian tak langsung akibat krisis pangan, kesehatan, dan infrastruktur yang tak memadai.
Sementara itu, kematian bayi diperkirakan akan semakin memburuk, yaitu 331.000 kematian anak-anak di bawah usia lima tahun, dengan satu kematian anak setiap tujuh menit, jika konflik berlanjut hingga tahun 2022.
UNDP memperkirakan sekitar 1,5 juta anak meninggal dengan laju satu anak setiap dua menit dan 1,8 juta orang Yaman mati total - sebagian besar, bukan dalam pertempuran tetapi secara tidak langsung karena kurangnya kebutuhan kemanusiaan.
Krisis ekonomi
Kerugian ekonomi Yaman karena konflik mencapai USD89 miliar pada 2019, dan akan bertambah jadi USD181 miliar pada 2022.
Angka itu kemungkinan melonjak menjadi USD657 miliar pada 2030, jika komunitas internasional gagal memberikan tekanan pada pihak-pihak yang bertikai untuk mengakhiri konflik.
Yaman telah dilanda konflik sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara itu.
Tahun berikutnya, koalisi militer pimpinan Saudi meluncurkan serangan udara besar-besaran di Yaman untuk mengalahkan Houthi.
Sejak itu, ribuan orang - termasuk banyak warga sipil - diyakini telah tewas dalam konflik.