Sena Guler
19 Januari 2018•Update: 19 Januari 2018
Sena Guler
ANKARA
Penasihat Khusus PBB untuk Pencegahan Genosida dan Penasihat Khusus PBB untuk Pertanggungjawaban Perlindungan mengungkapkan keprihatinannya atas situasi di Ghouta Timur dan Idlib di Suriah, Kamis.
Adama Dieng dan Ivan Simonovic mengeluarkan pernyataan bersama yang mengungkapkan keprihatinan mereka “pada dampak yang menghancurkan akibat meningkatnya kekerasan di Ghouta Timur dan Idlib kepada masyarakat sipil”.
Pernyataan ini memperingatkan bahwa kedua provinsi “adalah wilayah de-eskalasi di bawah perjanjian Astana dan oleh sebab itu harus menjadi tempat di mana warga sipil mendapatkan tingkat keamanan minimum”.
Pernyataan tersebut menyebutkan sekira 393.000 orang di Ghouta Timur harus menghadapi serangan udara, granat, dan bom oleh pasukan rezim dan sekutu-sekutu mereka sejak November 2017.
“Orang-orang di sana hidup dalam keadaan ekstrem karena pengepungan yang dilakukan oleh Pemerintahan Suriah, beberapa di antaranya menghadapi kekurangan makanan parah dan malnutrisi,” tambah pernyataan itu.
Menurut data Kantor Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), setidaknya 85 penduduk, termasuk 30 anak-anak, tewas di Ghouta Timur pada periode 31 Desember 2017 sampai 18 Januari 2018.
Meningkatnya pertempuran di selatan Idlib dan daerah pedesaan di utara Hama antara pasukan rezim dan kelompok oposisi telah mengakibatkan sejumlah besar penduduk tewas. Lebih dari 200 ribu penduduk juga terpaksa mengungsi, lanjut pernyataan itu.
“Tingkat kekerasan dan penderitaan yang dihadapi oleh masyarakat Suriah selama nyaris tujuh tahun konflik ini tidak bisa diterima,” begitu dituliskan.
Pernyataan juga menuliskan “diperkirakan lebih dari separuh infrastruktur dasar negara tersebut rusak atau hancur dan lebih dari 13 juta orang membutuhkan bantuan kemanusiaan”.
“Kita tidak bisa diam saja melihat kekerasan diskriminatif dan pelanggaran hukum kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional... Kami menyerukan kepada semua pihak, termasuk Dewan Keamanan, untuk mengutuk kekerasan ini, dan kami meminta kepada semua pihak yang terkait dengan konflik untuk memastikan bahwa hak dasar dan hukum kemanusiaan dilindungi, khususnya berkaitan dengan keadilan dan kehormatan.”
Ghouta Timur adalah rumah bagi sekitar 400.000 orang, namun telah berada di bawah situasi pengepungan oleh rezim Bashar al-Assad yang melumpuhkan kehidupan warganya sejak akhir 2012.
Ghouta Timur dan Idlib termasuk dalam daerah de-eskalasi – yang dijamin oleh Turki, Rusia, dan Iran melalui Perjanjian Astana – di mana tindakan agresi dilarang keras.
Suriah baru saja bangkit dari konflik dahsyat yang dimulai dari 2011, ketika rezim Assad mulai menindak para demonstran dengan kekerasan.