Maria Elisa Hospita
04 Maret 2019•Update: 04 Maret 2019
Beyza Binnur Donmez
ANKARA
Pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido mengumumkan bahwa dia akan segera pulang ke kediamannya, di tengah larangan bepergian yang diberlakukan terhadapnya sejak 30 Januari.
"Saya meminta warga Venezuela untuk berkumpul besok pukul 11.00 [1500 GMT]," cuit Guaido pada Minggu untuk memperingatkan kepulangannya ke negara itu.
Dia juga meminta warga untuk mengikuti perkembangan dari media sosial karena dia akan membuat sejumlah pengumuman pada Senin dan Selasa.
Setelah bertolak dari Venezuela ke Kolombia pada 23 Februari, Guaido juga mengunjungi Brasil, Paraguay, dan Argentina.
Pada 22 Februari, Venezuela menutup perbatasannya dengan Kolombia dan memutuskan hubungan diplomatik dengan negara tetangganya itu.
Sementara itu, Presiden Nicolas Maduro mengatakan Venezuela tidak memerlukan bantuan yang dikirim oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
Di hari berikutnya, sedikitnya empat orang terbunuh dan 200 lainnya luka-luka selama aksi protes antipemerintah di Venezuela. Sebanyak 51 orang juga ditangkap ketika bentrok dengan pasukan keamanan di perbatasan Kolombia.
Venezuela telah diguncang gelombang protes sejak 10 Januari, ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua.
Ketegangan pun meningkat saat Guaido, yang memimpin Majelis Nasional Venezuela, menyatakan dirinya sebagai presiden pada 23 Januari, suatu langkah yang didukung oleh AS dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Turki, Rusia, Iran, Kuba, Cina dan Bolivia telah menyatakan dukungan untuk Maduro.