Rhany Chairunissa Rufinaldo
27 April 2020•Update: 28 April 2020
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Senin mengatakan masih terlalu dini untuk mencabut karantina wilayah di Inggris.
Berbicara di depan Downing Street Nomor 10 dalam penampilan publik pertamanya ketika kembali ke kantor setelah sembuh dari Covid-19, Johnson mengatakan ada tanda-tanda bahwa Inggris telah melewati puncak pandemi dan berada pada titik risiko maksimum.
"Jelas pemerintah akan mengatakan lebih banyak tentang ini (karantina) dalam beberapa hari mendatang," kata Johnson.
Dia mengatakan pemerintah akan mencabut karantina ketika benar-benar yakin bahwa gelombang virus kedua tidak akan datang.
"Kita juga harus mengakui risiko lonjakan kedua dan membiarkan tingkat reproduksi kembali lebih dari satu. Itu tidak hanya akan menjadi gelombang baru kematian dan penyakit tetapi juga bencana ekonomi dan kita akan dipaksa sekali lagi untuk menginjak rem di seluruh negara dan seluruh ekonomi dan menerapkan kembali pembatasan," ujar perdana menteri.
Johnson mengatakan dia menolak untuk menyia-nyiakan semua upaya dan pengorbanan rakyat Inggris.
"Keputusan ini akan diambil dengan transparansi semaksimal mungkin," tutur dia.
Otoritas kesehatan Inggris mengumumkan pada Minggu bahwa korban tewas akibat Covid-19 di seluruh Inggris bertambah 413 dalam 24 jam, kenaikan harian terendah dalam bulan ini, sementara jumlah korban tewas mencapai hampir 21.000 pada Minggu.
Menurut perhitungan oleh The Times berdasarkan angka yang dirilis oleh Kantor Statistik Nasional, jumlah korban sebenarnya bisa mencapai lebih dari 40.000 jika kematian di rumah perawatan ditambahkan dalam penghitungan.
Johnson sendiri terinfeksi Covid-19 beberapa minggu yang lalu dan harus mendapatkan perawatan intensif setelah kondisinya memburuk, tetapi dia kemudian dikeluarkan dari rumah sakit untuk menyelesaikan pemulihannya.
Pekan lalu, Inggris memperpanjang karantina wilayah total di seluruh negeri selama tiga minggu.