Ekip
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Jumat meluncurkan rencana aksi 100 hari pertama kabinet baru Turki di ibukota Ankara.
“Hari ini, kami berbagi rencana aksi 100 hari pertama kami kepada Anda,” kata Erdogan, dalam pertemuan di Kompleks Kepresidenan.
Erdogan mengatakan mereka akan mengumumkan Program Jangka Menengah pada penghujung Agustus.
“Kami mulai mengerjakan rencana strategis untuk 2019-2023 dan bertujuan untuk melengkapi ini akhir November,” kata dia.
Presiden mengatakan lebih dari 1.000 proyek akan rampung dalam 100 hari, tetapi pengumuman paling penting adalah 400 program di antaranya.
Erdogan mencatat, 48 dari 400 proyek di antaranya terkait industri pertahanan.
Mengenai sistem peradilan di negara itu, dia berkata: “Kami telah melewati perjalanan panjang untuk memulihkan diri dari kehancuran oleh FETO [Organisasi Terorisme Fetullah] ke sistem peradilan kami.”
FETO dan pemimpinnya di AS, Fetullah Gulen, mengatur upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 251 orang menjadi martir dan hampir 2.200 orang terluka.
Ankara juga menuduh FETO melakukan kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara Turki lewat infiltrasi ke berbagai lembaga negara.
Erdogan mengatakan terkait rencana aksi, penilaian dampak lingkungan dan pekerjaan proyek survei Kanal Istanbul akan diajukan untuk disetujui.
The Canal Istanbul Project, jalur laut buatan yang akan menghubungkan Laut Hitam ke Laut Marmara dan Laut Tengah, direncanakan akan selesai pada 2023.
Kebijakan luar negeri
Presiden mengatakan misi diplomatik Turki meningkat dari 163 menjadi 240.
Erdogan mengumumkan bahwa konsulat jenderal di Mosul dan Basra, Irak, akan diaktifkan kembali terkait rencana aksi 100 hari.
Dia menambahkan, wakil komandan Turki akan ditugaskan di misi Irak NATO.
Berbicara tentang hubungan Turki dengan AS, Erdogan mengatakan: "Kami berharap kerja sama dengan AS di Manbij akan berlanjut, [meskipun]ada masalah di antara kami."
Kesepakatan Manbij antara Turki dan AS berfokus pada penarikan kelompok teror YPG yang berafiliasi dengan PKK dari kota di Suriah untuk menstabilkan kawasan.
Erdogan mengatakan upaya Turki itu bertujuan untuk menambah jumlah warga Suriah yang akan kembali ke zona aman di Suriah menjadi 250.000.
Presiden juga menegaskan kembali bahwa Turki akan terus mendukung rakyat Palestina, yang menjadi sasaran serangan "tidak sah dan tidak manusiawi" Israel.
Ekonomi dan energi
"Kami menghadapi perang ekonomi. Jangan khawatir, kami akan menang," kata Erdogan.
Presiden mengatakan hampir 40 miliar lira Turki dari sumber publik akan dikelola oleh satu akun dan Turki berencana untuk mendapatkan tambahan pendapatan tahunan 3 - 4 miliar lira Turki.
Erdogan meminta warga untuk mengganti penggunaan mata uang asing dan emas menjadi lira Turki.
Dia mengatakan, karena laporan sebelah pihak dari lembaga pemeringkat kredit, Turki cenderung mengarah ke Tiongkok untuk pinjaman luar.
Dia mengatakan karena laporan "satu sisi" dari lembaga pemeringkat kredit, Turki cenderung ke Tiongkok soal pinjaman luar. "Dalam hal ini, untuk pertama kalinya, kami menerbitkan obligasi Yuan Cina," tambahnya.
Presiden juga mengatakan pasar Tiongkok, Meksiko, Rusia dan India akan menjadi prioritas ekspor Turki di era baru.
Menyoal energi, Erdogan menyampaikan rencana Turki untuk mengembangkan sektor energi domestik yang mencakup pembelian kapal pengeboran kedua untuk melakukan eksplorasi hidrokarbon di perairan lepas pantai di sekitar negara itu.
Dia menambahkan, pembangunan pembangkit nuklir pertama Turki, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Akkuyu, sesuai jadwal, dan pembangunan kedua akan dilakukan di Sinop, Provinsi Laut Hitam, dan pabrik nuklir ketiga rencananya akan dibangun di wilayah barat laut Thrace.
Riset dan Pengembangan
Erdogan mengatakan Turki akan meningkatkan jumlah R&D dan pusat desain masing-masing 10 persen dan 8 persen.
Dia menambahkan, generasi baru zona bebas khusus akan dibangun untuk mengembangkan perangkat lunak, teknologi informasi, kesehatan, pendidikan, dan pembuatan film.
"Topik terpenting dari aksi 100 hari adalah bahwa bandara baru Istanbul akan beroperasi penuh pada 29 Oktober," kata Erdogan.
Bandara baru Istanbul itu akan menjadi satu dari tiga bandara terbesar di dunia dengan kapasitas 90 juta penumpang per tahun pada fase pertama.
Presiden juga mengumumkan bahwa teknologi 5G akan dimulai.
Dalam pernyataan penutupnya, Erdogan menegaskan bahwa Turki akan berupaya lebih jauh untuk mewujudkan target 2023.