Muhammad Abdullah Azzam
08 Oktober 2020•Update: 08 Oktober 2020
Nazir Aliyev Tayfur
BISHKEK, Kyrgyzstan
Aksi protes di ibu kota Kyrgyzstan, Bishkek, masih berlanjut setelah pemilu yang kontroversial.
Mulaya massa berkumpul di depan gedung Perdana Kementerian untuk menggelar demonstrasi setelah membebaskan Sadyr Zhaparov pada 6 Oktober.
Lalu ribuan orang pendukung oposisi memanfaatkan kericuhan untuk memaksa masuk ke dalam Istana Presiden.
Polisi menyemprotkan air bertekanan dan menggunakan granat gas dan setrum untuk membubarkan para pengunjuk rasa yang jumlahnya mencapai lebih dari 5.000 orang.
Para pengunjuk rasa mendorong mundur polisi dengan menggunakan kendaraan pemadam kebakaran dan truk sampah yang mereka rampas.
Mereka juga menggunakan batu dan tongkat untuk memaksa masuk ke dalam Istana Presiden dan gedung parlemen.
Para demosntran berhasil masuk ke dalam Istana Presiden selama 7 jam.
Di Istana Kepresidenan, para pengunjuk rasa merusak pintu, jendela, furnitur, dan barang-barang pribadi di kamar presiden, mereka juga melemparkan dokumen dan arsip dari jendela.
Pengunjuk rasa juga menyergap penjara tempat para narapidana politik ditahan.
Mereka membebaskan mantan presiden Almazbek Atambayev dari penjara Komite Keamanan Nasional, yang terletak dekat dengan Istana Kepresidenan.
Kyrgyzstan berhadapan dengan aksi protes massa yang menentang hasil pemilihan parlemen pada 4 Oktober.
Para demonstran memaksa masuk ke parlemen dan gedung lainnya, mereka bentrok dengan polisi, serta menuntut pemungutan suara baru.
Mereka juga memaksa Perdana Menteri Kubatbek Boronov dan ketua parlemen Dastan Jumabekov untuk mundur.
Boronov telah digantikan oleh Sadyr Japarov, yang membebaskan para pengunjuk rasa dari penjara pada 6 Oktober.
KPU Pusat juga mengumumkan hasil pemilu tersebut tidak sah, tak lama setelah Presiden Sooronbai Jeenbekov meminta KPU Pusat mengusut tuntas dugaan pelanggaran.