Alex Jensen
18 Mei 2018•Update: 19 Mei 2018
Alex Jensen
SEOUL
Korea Utara terus mengirim pesan-pesan keras kepada Amerika Serikat dan Korea Selatan, mengatakan bahwa waktu bagi kedua negara sekutu tersebut telah habis untuk memberikan kepastian soal mengakhiri latihan gabungan militer dan strategi denuklirisasi.
Diplomat senior Korea Utara Han Tae-song, dikutip oleh media negara tersebut pada Jumat, bersikeras Pyongyang siap bergabung dengan usaha dunia untuk menghilangkan senjata nuklir dari permukaan bumi. Namun menurut kantor berita KCNA, dia juga mengutuk ide yang disebutnya "salah dan berbahaya" jika ada negara yang berpikir Korea Utara akan setuju melakukan denuklirisasi hanya karena ancaman sanksi.
Han diketahui berada di Swiss pada pekan ini untuk menghadiri Konferensi Perlucutan Senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana dia mewakili Korea Utara sebagai duta besar.
"Penghentian tes-tes nuklir adalah proses penting untuk perlucutan senjata global," ujar dia.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un berjanji akan mewujudkan perdamaian dan denuklirisasi dalam pertemuan antar-Korea pertama kedua negara dalam satu dekade pada bulan lalu, yang mengubah kebijakan negara tersebut dari bersikukuh mengembangkan senjata nuklir menjadi dialog setelah bertahun-tahun tersandera sanksi.
Kim sebelumnya juga merencanakan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump pada 12 Juni, namun pada awal pekan ini keraguan atas realisasi pertemuan muncul -- setelah Korut menarik diri dari perundingan antar-Korea yang sedianya dilakukan pada Rabu karena adanya latihan militer gabungan oleh Korea Selatan dan AS. Korut juga memperingatkan AS untuk tak membuat rencana denuklirisasi secara sepihak.
Pyongyang terutama kesal karena rekomendasi -- yang diberikan oleh penasihat keamanan Trump, John Bolton -- yang mengatakan Korea Utara harus melakukan denuklirisasi seperti Libya, yang artinya Pyongyang harus melucuti senjata nuklir mereka sebelum menerima keuntungan ekonomi.
Trump, di sisi lain, berusaha menghapuskan kekhawatiran itu ketika berbicara di depan media di Gedung Putih pada Kamis, menjanjikan perlindungan lebih kepada Kim dan memintanya untuk mewujudkan kesepakatan yang akan membuat pemimpin Korut itu "sangat, sangat senang".
Sementara itu, pejabat Korea Utara yang menangani isu antar-Korea, Ri Son-gwon, menyatakan melalui laporan KCNA terpisah pada Kamis, bahwa dialog dengan pemerintahan Korea Selatan saat ini bisa ditenggalkan sepenuhnya "kecuali situasi serius yang menyebabkan penangguhan perundingan tingkat tinggi utara-selatan diselesaikan".
Ri merujuk kepada tuduhan Pyongyang yang menyebut AS-Korsel melakukan latihan militer untuk menginvasi Korut, juga keberatan Korut atas komentar pembelot Korea Utara, Thae Yong-ho, di depan parlemen Seoul pada Senin lalu.
Thae, yang melarikan diri dari penugasannya sebagai diplomat di London pada 2016, meragukan kesiapan Korut untuk denuklirisasi -- Ri dalam artikel di KCNA menyebutnya sebagai "manusia sampah" dan menyalahkan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in karena mengizinkannya mengkritik rezim Kim.