Hayatı Nupus
09 Februari 2020•Update: 10 Februari 2020
Addis Getachew dan Seleshi Tessema
ADDIS ABABA, Ethiopia (AA) – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan pada Sabtu bahwa keterlibatan Afrika dalam pembicaraan tentang Libya di konferensi Berlin sangat minim.
“Kami ingin perwakilan Afrika menghadiri seluruh pertemuan,” kata Guterres, dengan nada marah.
Pernyataan Guterres itu dilontarkan dalam konferensi pers sehari sebelum pembukaan resmi Majelis Kepala Negara dan Pemerintahan Uni Afrika ke-33.
“Ada sejumlah pemain, dan peralatan militer dan tentara di Libya yang membuat perdamaian menjadi tidak mungkin. Ini tidak bisa diterima, ini pelanggaran embargo senjata PBB,” kata dia.
“Kritik [untuk resolusi] krisis Libya adalah meningkatkan kerja sama internasional dengan negara-negara Afrika. Kami membutuhkan kerja sama internasional dengan Dewan Keamanan PBB,” desak dia.
“Saya masih mendukung keputusan Uni Afrika untuk mengadakan forum rekonsiliasi antar-Libya setelah pertemuan puncak Brazzaville,” tambah dia.
Libya terus dilanda gejolak sejak 2011, ketika penguasa lama Muammar Gaddafi yang telah empat dekade berkuasa digulingkan dan tewas dalam pemberontakan yang didukung NATO.
Sejak itu, negara kaya minyak tersebut terpecah menjadi dua kekuasaan yang saling bersaing: satu di timur Libya, yang berafiliasi dengan Jenderal Khalifa Haftar, dan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang berbasis di Tripoli, dengan pengakuan PBB.
Sejak awal April, pasukan yang setia kepada Haftar meluncurkan kampanye untuk merebut Tripoli dari pasukan GNA.
Guterres juga menggambarkan tentara yang disponsori PBB untuk memerangi terorisme di wilayah Sahel sebagai “penjaga perdamaian di mana tak ada perdamaian untuk dpertahankan.”
Dia mengatakan pasukan anti-terorisme multi-nasional yang dikerahkan di wilayah itu “kekurangan sumber daya dan pendanaan memadai.”
Guterres mengatakan dia mengajak Afrika yang lebih kuat di kawasan itu untuk melawan terorisme.