Maria Elisa Hospita
28 Mei 2019•Update: 29 Mei 2019
Ali H. M.Abo Rezeg
KHARTOUM
Demonstran di Sudan melancarkan aksi mogok selama dua hari berturut-turut untuk menekan dewan militer yang berkuasa agar menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil.
Aksi protes itu dipelopori oleh aliansi oposisi Deklarasi Kebebasan dan Aliansi di tengah mandeknya negosiasi dengan Dewan Militer Transisi (TMC) mengenai langkah-langkah untuk penyerahan kekuasaan.
Kelompok aktivis Sudan menyebarkan rekaman yang memperlihatkan ratusan penumpang terlantar di Bandara Khartoum karena para pilot mogok kerja.
Menurut para aktivis, buruh di ladang minyak di timur dan selatan Sudan juga ikut mogok kerja.
Beberapa lembaga negara, termasuk Zain Telecom, salah satu perusahaan telekomunikasi utama negara itu, bahkan tak beroperasi.
Asosiasi Profesional Sudan mengatakan aksi mogok terjadi di ibu kota, Khartoum, dan provinsi-provinsi Sudan lainnya.
Pada 11 April, pasukan militer Sudan menggulingkan Omar al-Bashir yang telah berkuasa sejak 1989, menyusul aksi protes terhadap pemerintahannya yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Saat ini dewan militer mengawasi "masa transisi" yang akan berlangsung selama dua tahun.
Namun, para demonstran tetap menggelar aksi protes untuk menuntut penyerahan kekuasaan dari dewan militer ke otoritas sipil sesegera mungkin.