ANKARA
Dunia bisnis Turki akan mengerjakan proyek-proyek baru di sektor energi, kesehatan, dan infrastruktur di Libya seperti yang dijanjikan selama kunjungan perdana menteri Libya ke ibu kota Turki, awal minggu ini.
Perusahaan-perusahaan Turki akan mengambil proyek pembangunan pembangkit listrik dan juga distribusi listrik di Libya, kata Nail Olpak, kepala Dewan Hubungan Ekonomi Luar Negeri Turki (DEIK), kepada Anadolu Agency setelah kunjungan resmi Perdana Menteri Libya Abdul Hamid Dbeibeh selama dua hari ke ibu kota Ankara.
Libya telah melewati satu dekade yang sulit, kata Olpak dalam wawancara eksklusif, tetapi dia menambahkan bahwa proses perdamaian saat ini seperti sangat menjanjikan.
"Fakta bahwa perdana menteri Libya datang dengan delegasi yang sangat besar adalah tanda nilai yang diberikan negara itu untuk Turki," ujar Olpak.
Dunia bisnis Turki juga menyambut baik pernyataan PM Libya Dbeibeh setelah bertemu dengan presiden Turki dan pejabat tinggi lainnya pada Senin.
Dbeibeh mengungkapkan niat pemerintahannya untuk meningkatkan hubungan dengan Turki serta menjadikan hubungan bilateral mereka sebagai "model hubungan yang seharusnya dengan Libya."
Mengomentari hasil pertemuan delegasi Turki-Libya pada Selasa, Olpak mengatakan pendekatan perdana menteri Libya pragmatis karena "dia juga dari dunia bisnis."
“Dbeibeh menjawab semua pertanyaan dari para pebisnis dan menyelesaikan masalah satu per satu,” sebut Olpak.
Pertemuan itu juga mencakup pembukaan Kedutaan Besar Libya di ibu kota Ankara dan Konsulat Turki di Benghazi, timur laut Libya, serta memungkinkan kunjungan bebas visa untuk warga negara Turki dan penandatanganan kesepakatan perdagangan bebas antara kedua negara, jelas Olpak.
"Perdana menteri ingin mengambil tindakan cepat untuk masalah ini," imbuh dia.
- Libya lebih suka bekerja dengan pebisnis Turki
Setelah beberapa proyek perusahaan Turki terputus selama kekacauan di Libya, terutama proyek konstruksi, Olpak mengatakan pemerintah Libya kini siap membantu penyelesaian masalah sebelumnya dan mendorong proyek baru.
"Libya lebih suka bekerja dengan pebisnis Turki untuk proyek-proyek baru yang penting, karena memiliki pengalaman yang baik dengan kami," tekan dia.
Turki dan Libya akan menggelar pertemuan bisnis serupa, secara sektoral, di Libya pada Mei setelah Idul Fitri, kata Olpak.
Menyoroti tahun lalu volume perdagangan antara kedua negara mencapai USD3 miliar, Olpak mengatakan investasi di Libya harus dipertimbangkan tidak hanya dalam konstruksi tetapi juga di sektor energi.
"Libya mengalami kekurangan energi. Ini adalah salah satu topik penting yang dibahas selama pertemuan meja bundar," sebut dia, seraya menambahkan bahwa negara itu memiliki kebutuhan yang serius soal minyak, termasuk kilang yang harus diinvestasikan oleh pebisnis Turki.
"Jangan melihat sumber daya bawah tanah di Libya hanya minyak saja," tutur Olpak.
- Dukungan hangat Turki menuai imbalan
Olpak mengatakan ada lebih banyak kesepakatan yang segera hadir, selain lima perjanjian yang ditandatangani pada Senin di Ankara untuk meningkatkan kerja sama di bidang media, konstruksi, dan pembangkit listrik.
“Tidak hanya pembangunan pembangkit listrik, tetapi distribusi listrik juga menjadi agenda kami, karena Libya sedang mengalami kendala dalam hal ini,” tutur Olpak.
Dia juga menyoroti bahwa pertemuan itu juga membahas kerja sama di sektor kesehatan, dan mengatakan, "Menteri kesehatan Libya akan melanjutkan negosiasi dengan perusahaan Turki untuk pembangunan dan manajemen rumah sakit."
Olpak menambahkan bahwa kedua belah pihak mengakhiri pertemuan mereka dengan "perasaan yang sangat positif."
Pada Senin, setelah pembicaraan dengan pejabat tingkat tinggi Libya, para pemimpin Turki menekankan kerja sama bilateral yang berkelanjutan, serta kembalinya dunia bisnis Turki ke Libya, dan negara itu mendapatkan stabilitas kembali.
Libya jatuh ke dalam kekacauan dan perang saudara setelah penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011.
Turki telah lama mendukung upaya Pemerintah Persatuan Nasional untuk menyatukan negara.
Pada 5 Februari, delegasi Libya memilih Dbeibeh sebagai perdana menteri baru negara itu dan Mohammad Menfi untuk memimpin tiga anggota Dewan Kepresidenan.
Pemilu di negara Afrika Utara itu akan digelar pada 24 Desember mendatang.
news_share_descriptionsubscription_contact

