Muhammad Abdullah Azzam
11 November 2020•Update: 11 November 2020
Zuhal Demirci
ANKARA
Menteri luar negeri Turki pada Selasa menyebut kesepakatan Karabakh sebagai "kemenangan besar" bagi Baku dan dia mengucapkan selamat kepada Azerbaijan atas pembebasan wilayah tersebut.
“Kami akan terus mendukung Azerbaijan. [Kesepakatan] ini adalah kesuksesan dan kemenangan besar bagi Azerbaijan. Tanah itu di bawah pendudukan selama 30 tahun tengah dibebaskan,” kata Mevlut Cavusoglu pada konferensi pers bersama dengan sejawatnya dari Kirgistan Ruslan Kazakbaev di ibu kota Ankara.
Dia mengatakan Turki berhubungan dengan semua pihak untuk memantau kesepakatan guna mengakhiri sengketa Nagorno-Karabakh.
“Akhirnya, [Perdana Menteri Armenia Nikol] Pashinyan dan tentara Armenia harus menyerah,” kata Cavusoglu, seraya menambahkan bahwa Armenia telah membayar harga yang mahal untuk perang dan konflik yang tiada henti.
Sebelumnya pada hari itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan bahwa Azerbaijan dan Armenia telah menandatangani perjanjian untuk menciptakan solusi jangka panjang dan komprehensif untuk konflik berkepanjangan di Nagorno-Karabakh.
Pengumuman tersebut mengundang perayaan di banyak kota di Azerbaijan, dengan ribuan orang membawa bendera Azerbaijan dan Turki, serta menyanyikan lagu kebangsaan dan menari di jalanan.
“Kami senang dengan dukungan yang diberikan Dewan Turki ke Azerbaijan,” kata Cavusoglu, menekankan perlunya semua negara persaudaraan untuk menunjukkan solidaritas mereka.
Hubungan antara dua bekas republik Soviet atas Karabakh tetap tegang sejak 1991, dengan bentrokan baru yang meletus pada 27 September.
Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan selama lebih dari 40 hari, bahkan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
- 'FETO adalah ancaman bagi semua'
Mengenai pertanyaan mengenai tindakan baru-baru ini terhadap Organisasi Teroris Fetullah (FETO) di AS, menteri luar negeri Turki mengatakan pihak berwenang Amerika akhirnya mulai menyadari ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok teror tersebut.
AS memberikan denda USD4,5 juta pada sekolah FETO karena terlibat dalam praktik penawaran non-kompetitif, ungkap Departemen Kehakiman AS pada Jumat lalu.
Cavusoglu mengatakan Amerika mulai memahami ambisi gelap FETO dan bagaimana FETO menggunakan manusia dan teknologi untuk tujuan gelapnya.
“FETO adalah ancaman bagi semua negara, tidak hanya Turki. Kami telah memperingatkan semua negara; FETO adalah organisasi teroris, jaringan kriminal, [dan] semua orang harus melawannya,” tegas dia.
Dia mengatakan anggota FETO juga berada di balik kekerasan pasca pemilihan di Kyrgyzstan.
“Yang paling disukai anggota FETO adalah menciptakan kekacauan, melakukan kudeta, dan memicu kerusuhan kemanapun mereka pergi. Langkah-langkah yang perlu diambil sangat penting untuk perdamaian dan stabilitas di Kyrgyzstan,” tambah dia.
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen, mengatur kudeta yang dikalahkan pada 15 Juli 2016 di Turki, yang menyebabkan 251 orang tewas dan hampir 2.200 lainnya terluka.
Turki menuduh FETO berada di balik kampanye jangka panjang untuk menggulingkan negara melalui infiltrasi lembaga-lembaga Turki, terutama militer, polisi, dan pengadilan.
- 'Ikatan semakin kuat'
Hubungan Turki dan Kyrgyzstan telah berkembang dengan baik, terutama di bidang ekonomi, kata Cavusoglu.
“Hubungan ekonomi kami semakin kuat. Tahun lalu, volume perdagangan kami melebihi USD500 juta dengan peningkatan 22 persen, ”kata dia, menambahkan bahwa kedua negara memilik target untuk mencapai angka USD1 miliar.
Menteri tersebut mengatakan bahwa Turki sangat mementingkan pembangunan ekonomi Kyrgyzstan dan akan terus berinvestasi di negara tersebut.