Muhammad Abdullah Azzam
11 November 2020•Update: 12 November 2020
Ferdi Turkten
ANKARA
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa berbincang dengan mitranya dari Rusia Vladimir Putin melalui telepon untuk membahas hubungan bilateral dan perkembangan regional, termasuk soal Karabakh dan Suriah.
Menurut pernyataan dari Kepresidenan Turki, Erdogan mengatakan langkah yang tepat telah diambil tadi [Senin] malam untuk mencari solusi abadi untuk Nagorno-Karabakh.
Dia mengatakan “peluang signifikan” ini, yang merupakan kontribusi besar dari Turki dan Rusia, tidak boleh disia-siakan, dan harus digunakan untuk memastikan perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan.
Erdogan menggarisbawahi bahwa "masalah terpenting saat ini Armenia harus mematuhi gencatan senjata dan komitmen yang ditetapkan dalam pernyataan bersama" yang ditandatangani oleh Azerbaijan dan Armenia.
Dia mengatakan bahwa Turki bersama Rusia "akan melakukan pemantauan dan pengawasan" untuk gencatan senjata melalui Pos Bersama yang akan didirikan di wilayah yang dibebaskan dari pendudukan Armenia.
Erdogan menambahkan bahwa lokasi pos tersebut akan ditentukan oleh Azerbaijan.
"Tanggung jawab besar juga jatuh ke pihak Rusia, pada tahap ini," kata pernyataan itu.
Presiden Turki juga menekankan pentingnya bagi pengungsi Azerbaijan kembali ke rumah mereka di Karabakh dan sebuah koridor dibuka antara Azerbaijan dan Nakhchivan.
Menekankan masalah Karabakh membuktikan kerja sama Turki-Rusia dalam penyelesaian konflik dan krisis regional, Erdogan mengatakan "semangat kerja sama yang serupa harus ditampilkan" di Suriah, di mana mereka dapat membangun mekanisme serupa.
Putin pada Selasa pagi mengumumkan bahwa Azerbaijan dan Armenia telah menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri konflik di Karabakh Atas, yang juga dikenal sebagai Nagorno-Karabakh.
Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev memuji perjanjian tersebut sebagai kemenangan bagi negaranya, dan mengatakan keberhasilan militer Baku telah memungkinkannya untuk mendapatkan keunggulan untuk mengakhiri pendudukan selama tiga dekade di wilayahnya.
Pimpinan Turki juga menyambut baik gencatan senjata itu, menyebutnya sebagai "kemenangan besar" bagi Azerbaijan.
Hubungan antara Azerbaijan dan Armenia tegang sejak 1991, dan bentrokan baru terjadi pada 27 September.
Armenia berulang kali menyerang warga sipil dan pasukan Azerbaijan selama lebih dari 40 hari, bahkan melanggar tiga perjanjian gencatan senjata kemanusiaan.
Kemenangan Baku atas kota strategis Shusha pada Minggu telah mengisyaratkan bahwa kemenangan mereka sudah dekat.