Pizaro Gozali İdrus
07 Desember 2017•Update: 07 Desember 2017
Pizaro Gozali Idrus
JAKARTA
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menolak keras tindakan AS memberikan pengakuan terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan rencana pemindahan kantor kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yurusalem.
Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menilai tindakan tersebut akan kian memicu ketegangan di kawasan dan mengganggu stabilitas Timur Tengah dan dunia.
“Trump memantik kemarahan besar umat Islam di seluruh dunia,” ujar Zainut di Jakarta, Kamis.
Zainut menambahkan alih-alih memberikan solusi, langkah Trump justru akan semakin mengancam proses perdamaian Israel-Palestina. Keputusan Trump juga memperpanjang penderitaan bangsa Palestina karena semakin tidak memiliki kepastian untuk merdeka.
Untuk itu, MUI mendukung langkah-langkah Pemerintah Indonesia untuk kemerdekaan negara Palestina dan terciptanya perdamaian melalui solusi dua negara.
“Solusi itu mencakup pembentukan negara merdeka Palestina di dalam garis perbatasan sebelum Perang 1967 yang terdiri dari Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur, dengan Israel yang hidup berdampingan secara damai,” ujar Zainut.
MUI meminta Pemerintah Indonesia untuk menggalang lobi bersama negara-negara Muslim untuk menekan AS agar mengevaluasi tindakannya.
MUI juga mendesak PBB agar menjatuhkan sangsi berat kepada Israel dan AS.
“Kedua negara telah nyata-nyata melanggar resolusi DK PBB,” tukas dia, mengacu kepada resolusi DK PBB 2334 yang menuntut Israel menghentikan pendudukan di Yerusalem Timur, termasuk pemindahan ibukota dari Tel Aviv ke Yerusalem
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan AS secara resmi telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Rabu.
Dia juga telah memberikan arahan kepada Departemen Luar Negeri AS untuk memulai persiapan pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem, kota yang diklaim oleh warga Israel dan Palestina. Langkah ini diperkirakan akan memakan waktu beberapa tahun.
"Pengumuman saya hari ini menandai dimulainya sebuah pendekatan baru untuk konflik antara Israel dan Palestina," kata Trump di Gedung Putih.