Maria Elisa Hospita
20 Juni 2019•Update: 21 Juni 2019
Khalid Mejdoub dan Gulsen Topcu
FEZ, Maroko
Puluhan warga di Provinsi Fez, Maroko, berunjuk rasa untuk memprotes perlakuan pemerintah Mesir terhadap mantan presiden Mohamed Morsi.
Morsi meninggal dunia awal pekan ini, setelah jatuh pingsan dalam persidangan atas tuduhan "spionase".
Para demonstran meneriakkan dukungan untuk Revolusi Mesir 2011 yang mengakhiri kekuasaan mantan presiden Hosni Mubarak setelah 30 tahun berkuasa, dan membuka jalan bagi kepemimpinan Morsi.
Salah satu demonstran, Yousef al-Aruzi, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa Morsi meninggal karena kurangnya perawatan medis yang memadai selama enam tahun terakhir.
Menurut dia, unjuk rasa itu digelar untuk mengutuk praktik kejam kudeta militer dan memperjuangkan budaya demokrasi dan hak asasi manusia di Maroko.
Sejumlah demonstran membawa plakat bertuliskan "Akhiri pemerintahan militer!" dan "Hidup sebagai mujahidin, mati sebagai martir".
Pada 2012, Morsi, yang merupakan anggota kelompok Ikhwanul Muslimin Mesir, memenangkan pemilihan presiden demokratis pertama Mesir.
Namun, setelah hanya satu tahun menjabat, dia digulingkan dan dijebloskan ke penjara dalam kudeta militer yang dipimpin oleh menteri pertahanan Mesir saat itu - dan presiden saat ini - Abdel Fattah al-Sisi.
Tak lama setelah kudeta itu, Ikhwanul Muslimin secara resmi ditetapkan sebagai "organisasi teroris" di Mesir.
Sesaat sebelum meninggal dunia, Morsi menghadapi sejumlah tuntutan hukum, yang menurut dia dan sejumlah kelompok HAM dan pengamat independen, bermotif politik.
*Ditulis oleh Ali Murat Alhas