Maria Elisa Hospita
15 Agustus 2019•Update: 16 Agustus 2019
Mahmoud Barakat
ISTANBUL
Pemerintah Yaman meminta Uni Emirat Arab (UEA) dan kelompok separatis selatan bertanggung jawab atas "kudeta" di ibu kota sementara, Aden.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Yaman mendesak UEA untuk segera berhenti mendukung "kelompok-kelompok pemberontak", yang merujuk pada pasukan Sabuk Keamanan yang loyal kepada Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung UEA.
Kementerian menegaskan bahwa koalisi yang dipimpin Saudi melakukan intervensi di Yaman setelah Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi meminta perlindungan legitimasi dari Raja Saudi Salman bin Abdulaziz.
Menurut kementerian, permintaan itu didasarkan pada hukum internasional dan Piagam PBB untuk melindungi Yaman dari kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.
Setelah pertempuran sengit dengan pasukan pemerintah yang sah selama empat hari, pasukan Sabuk Keamanan kini menduduki sebagian besar institusi negara, termasuk Istana Kepresidenan Maasheeq, di Aden.
Yaman masih dilanda kekerasan sejak 2014, yaitu ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara itu, termasuk ibu kota, Sanaa.
Konflik meningkat di tahun berikutnya ketika Arab Saudi dan sekutu Sunni-Arabnya melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk mengalahkan Houthi di Yaman.