İqbal Musyaffa
27 April 2018•Update: 28 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan adanya kemungkinan penyesuaian suku bunga 7 days repo rate.
Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, penyesuaian suku bunga akan ditempuh bila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan menganggu stabilitas sistem keuangan.
“Kebijakan ini tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur, dan bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan ke depan,” ungkap Agus.
Terkait perkembangan nilai tukar terkini, menurut Agus, BI telah melakukan langkah-langkah stabilisasi baik di pasar valas maupun pasar SBN (dual intervention) untuk meminimalkan depresiasi yang terlalu cepat dan berlebihan.
Untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar, BI akan senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun rupiah.
“Kita akan memantau dengan seksama perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik,” lanjut Agus.
BI, menurut dia, juga mempersiapkan second line of defense bersama dengan institusi eksternal terkait.
Meskipun rupiah terus tertekan, namun menurut Agus, fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi kuat.
“Inflasi masih sesuai dengan kisaran 3,5+1 persen dan defisit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman 3 persen PDB,” ungkap Agus.
Dia juga mengatakan, momentum pertumbuhan ekonomi berlanjut diikuti oleh struktur pertumbuhan yang lebih baik, dan stabilitas sistem keuangan yang tetap kuat.
“Kepercayaan asing juga terus membaik yang tercermin pada upgrade rating Indonesia oleh Moody’s, JCRA, dan R&I serta dimasukkannya obligasi negara ke dalam Bloomberg Global Bond Index,” tambah Agus.
Sampai dengan hari Kamis tanggal 26 April 2018, Agus mengungkapkan rupiah terdepresiasi sebesar -0,88 persen (mtd).
Depresiasi rupiah ini masih lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara Asia lain termasuk Thailand THB dengan depresiasi -1,12 persen (mtd), Malaysia MYR terdepresiasi -1,24 persen (mtd), Singapore SGD -1,17 persen (mtd), Korea Selatan KRW -1,38 persen (mtd), dan India INR -2,4 persen (mtd).