Astudestra Ajengrastrı
18 Juli 2018•Update: 19 Juli 2018
Muhammad Mussa
LONDON
Perdana Menteri Inggris Theresa May berhasil mengalahkan penentang-penentangnya di majelis rendah parlemen pada Selasa, setelah menang tipis atas amandemen Serikat Pabean yang diusulkan oleh anggota parlemen yang memungkinkan Inggris tetap berada dalam Serikat Pabean dalam skenario 'no deal' pasca-Brexit.
Proposal ini berhasil dikalahkan dengan kemenangan tipis suara mayoritas (307-301), dan dalam prosesnya, May berhasil menunda perang sipil di antara kelompok Remainers, atau mereka yang memilih Inggris tetap berada di Uni Eropa dan Brexiters garis keras, yaitu mereka yang ingin mengakhiri semua hubungan dengan UE, di dalam tubuh Parlemen Tory (sebutan bagi parlemen Inggris).
Perdana Menteri, meski begitu, juga mengalami kekalahan. Beberapa menit sebelum pengambilan suara amandemen RUU bea cukai, dia mengalami kekalahan kedua soal Brexit di House of Commons, atau majelis rendah parlemen, setelah para anggota parlemen memilih untuk tetap berada di bawah aturan obat-obatan UE.
Banyak yang mengharapkan pemerintah kalah dalam amandemen RUU bea cukai, yang pada akhirnya akan memaksa May untuk berusaha membuat Inggris berada di bawah aturan bea cukai UE jika tidak ada persetujuan perdagangan yang dicapai sebelum 21 Januari 2019.
Dua belas anggota parlemen 'Remainer' membelot menentang partai mereka dan mendukung amandemen, sementara empat pendukung Brexit dari Partai Buruh membelot dari keputusan partai dan mendukung pemerintah.
Sumber-sumber dari Partai Konservatif berkata lebih banyak lagi anggota parlemen Tory yang akan membelot dari pemerintah jika saja mereka tidak menerima ancaman bahwa pembelotan akan memaksa diadakannya pengambilan suara menentang perdana menteri dan membuka peluang adanya pemilihan umum.