07 Oktober 2017•Update: 09 Oktober 2017
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Bank Indonesia menginformasikan jumlah cadangan devisa Indonesia terus meningkat yang hingga akhir September mencapai USD 129,4 miliar.
Jumlah tersebut lebih besar dari bulan sebelumnya yang tercatat USD 128,8 miliar. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman menyebut peningkatan tersebut dipengaruhi oleh penerimaan devisa dari penerimaan pajak dan ekspor migas bagian pemerintah.
“Selain itu juga berasal dari penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta hasil lelang surat berharga Bank Indonesia (SBBI) valas,” ujar dia melalui siaran pers, Jum’at malam.
Menurut Agusman, penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa, terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo.
Agusman menjelaskan posisi cadangan devisa cukup untuk membiayai 8,9 atau 8,6 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Cadangan devisa saat ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas dia.
Pada kesempatan berbeda, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan kondisi makro ekonomi Indonesia saat ini semakin membaik. “Pemulihan ekonomi juga terus berjalan dan fundamental ekonomi terus terjaga,” ungkap Agus.
Agus menjelaskan ekonomi pada kuartal III banyak menunjukkan perbaikan kondisi investasi bangunan dan non bangunan serta kinerja ekspor. Bahkan, penjualan ritel juga terus membaik.
“Kita melihat pertumbuhan ekonomi tahun ini berada di kisaran 5-5,4 persen. Inflasi juga terjaga dengan baik,” tambah dia.
Badan Pusat Statistik merilis inflasi September sebesar 0,13 persen dan inflasi year to year sebesar 3,72 persen. Sementara inflasi periode Januari-September sebesar 2,66 persen.
Target inflasi pemerintah tahun ini sebesar 4 persen plus minus 1 persen. Kemudian, Agus menilai berdasarkan survei mingguan menunjukkan inflasi Oktober akan berada di angka 0,3 persen.
Jika dilihat year on year, Oktober ini inflasi diperkirakan berada di angka 3,61 persen. “Kita melihat bahwa inflasi kita sesuai dengan target,” tegas Agus.
Bahkan, lanjut dia, untuk tahun 2018-2019 inflasi Indonesia mengarah pada titik tengah dari target yang dicanangkan sehingga inflasi masih terkendali dengan baik.
Neraca pembayaran Indonesia, menurut Agus, tahun ini juga relatif baik. Proyeksi surplus perdagangan pada awal tahun sebesar USD 6 miliar kemudian direvisi menjadi lebih optimistis di angka USD 11 miliar. Revisi ini dilakukan karena hingga Agustus surplus perdagangan Indonesia sudah mencapai USD 9,11 miliar.
“Kondisi peningkatan ini terlihat dengan meningkatnya cadangan devisa Indonesia hingga September ini,” tambah dia.
Surplus neraca perdagangan tersebut mendukung Bank Indonesia untuk memotong suku bunga sebesar 25 basis poin pada September kemarin.
“Kita berharap pemulihan kondisi ekonomi Indonesia terus berlanjut,” ujar Agus.