Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,07 persen sepanjang 2017 merupakan tertinggi sejak 2014.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 perekonomian Indonesia tumbuh 5,01 persen, lalu kemudian melambat pada 2015 menjadi 4,88 persen sebelum akhirnya meningkat kembali pada 2016 menjadi 5,03 persen.
“Meski begitu, pertumbuhan ekonomi 2017 masih di bawah target APBNP sebesar 5,2 persen,” ungkap Kepala BPS Suhariyanto, Senin, di Jakarta.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tahun ini terjadi pada seluruh sektor usaha.
“Sektor informasi dan komunikasi mencapai pertumbuhan tertinggi sebesar 9,81 persen, diikuti jasa lainnya 8,66 persen,” jelas dia.
Pertumbuhan ekonomi 2017 menurut Suhariyanto didorong oleh industri pengolahan dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 0,91 persen. Kemudian sektor konstruksi menjadi penyumbang pertumbuhan terbesar kedua sebesar 0,67 persen.
Selanjutnya, struktur perekonomian Indonesia menurut lapangan usaha tahun 2017 didominasi oleh industri pengolahan dengan porsi 20,16 persen. Pertumbuhan pertanian, kehutanan, dan perikanan mencapai 13,14 persen.
Suhariyanto mengatakan pertumbuhan ekonomi 2017 diukur berdasarkan produk domestik bruto atas dasar harga yang berlaku mencapai Rp13.588,8 triliun. “Sementara PDB perkapita mencapai Rp51,89 juta atau USD3.876,8,” urai Suhariyanto.
Pertumbuhan year on year triwulan keempat naik
Pada triwulan keempat 2017, menurut Suhariyanto, ekonomi Indonesia tumbuh 5,19 persen bila dibandingkan triwulan yang sama tahun 2016. Pertumbuhan tersebut terjadi di seluruh lapangan usaha.
“Jasa perusahaan memiliki pertumbuhan tertinggi sebesar 9,25 persen dan jasa informasi komunikasi sebesar 8,99 persen,” tambah dia.
Struktur ekonomi Indonesia pada triwulan keempat 2017 didominasi oleh industri pengolahan sebesar 19,96 persen, perdagangan besar-eceran, reparasi mobil-sepeda motor sebesar 12,94 persen, dan pertanian, kehutanan, dan perikanan 11,18 persen.
Pertumbuhan quarter to quarter triwulan keempat turun
Bila dibandingkan dengan triwulan ketiga 2017, BPS menyebutkan pertumbuhan ekonomi di triwulan keempat (q to q) justru turun 1,7 persen. Penurunan ini akibat menurunnya lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 21,6 persen.
“Hal ini karena faktor musiman beberapa komoditas pertanian karena penurunan produksi akibat cuaca,” jelas dia.
Penurunan pertumbuhan pada triwulan keempat bila dibanding triwulan ketiga, menurut Suhariyanto, adalah hal wajar. Penurunan pertumbuhan q to q pada triwulan keempat 2017 masih lebih rendah dari triwulan keempat tahun 2016 yang ketika itu secara q to q turun 1,81 persen.
“Begitupun pertumbuhan q to q triwulan keempat 2015 yang saat itu turun 1,73 persen dari triwulan sebelumnya,” tambah Suhariyanto.
news_share_descriptionsubscription_contact

