Muhammad Nazarudin Latief
10 November 2017•Update: 10 November 2017
Nazarudin Latief
JAKARTA
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2017 sebesar 5.06 persen belum menunjukkan kualitas yang cukup untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu indikator kualitas pertumbuhan ekonomi, kata Peneliti Indef Riza Annisa Pujarama, bisa dilihat dari jumlah penyerapan tenaga kerja.
Dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dapat dilihat bahwa indikator makro ekonomi memang menunjukkan perbaikan pada sisi pertumbuhan, namun kurang dalam penyerapan tenaga kerja.
“Artinya, pertumbuhan ekonomi belum mampu menyerap tenaga kerja,” ujar Riza, di Jakarta, Jumat.
Menurut Riza, dalam setahun terakhir pengangguran bertambah 10 ribu orang, dari 7,03 juta menjadi 7,04 juta jiwa. Sementara tingkat pengangguran terbuka meningkat dari 5,33 persen pada Februari 2017 menjadi 5,59 persen pada Agustus 2017.
Tingkat elastisitas penyerapan tenaga kerja juga terus menurun sejak 2010.
Pada 2016, tiap 1 persen pertumbuhan ekonomi hanya dapat menyerap 110.000 tenaga kerja. Angka ini jauh jika dibandingkan dengan 2011, di mana tiap 1 persen pertumbuhan ekonomi 1 bisa menyerap 225.000 tenaga kerja.
Ini menunjukkan, belum membaiknya pertumbuhan sektor industri (tradable) dibanding sektor jasa (non-tradable). Padahal sektor industri dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak.
Fakta lain, para penganggur juga didominasi oleh lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menunjukkan adanya ketidakcocokan antara penawaran tenaga kerja dengan kebutuhan industri.
Kebutuhan industri ternyata tidak bisa diikuti oleh kemampuan lulusan SMK atau diploma, akibatnya industri mengambil lulusan lainnya, baik sarjana maupun di bawah SMK.
Kondisi serupa ternyata juga terjadi pada sektor pertanian yang menyumbangkan paling banyak pengangguran.
Hal lain yang harus diwaspadai pemerintah adalah, meningkatnya jumlah tenaga kerja asing dari Tiongkok, Korea, dan Jepang yang mengisi jabatan manajerial strategis perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia.
Harus dicari tahu, mengapa perusahaan-perusahaan di tanah air malah memilih tenaga kerja asing untuk pos-pos strategis.
“Pemerintah harus benahi pendidikan,” ujar Riza.