İqbal Musyaffa
22 Maret 2018•Update: 23 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menguat setelah the Fed mengumumkan kenaikan suku bunganya sebesar 25 basis poin.
Menurut Analis Bahana Sekuritas Muhammad Wafi kepada Anadolu Agency, Kamis, penguatan IHSG karena pasar sudah priced in atau sudah menyesuaikan dengan kenaikan suku bunga tersebut.
Pada hari ini IHSG dibuka menguat ke level 6.331,98 dari sesi penutupan kemarin yang berada di level 6.312,83. HIngga menjelang penutupan perdagangan sesi pertama hari ini, IHSG telah menguat 0,35 persen menjadi 6.335,18.
“Meskipun ada aksi penarikan dana dari investor asing hingga Rp30 triliun hingga hari ini akibat sentimen kenaikan suku bunga the Fed, IHSG sudah priced in,” jelas dia.
Meskipun besarnya aksi jual saham oleh investor asing, namun rupiah menurut dia saat ini sudah stabil akibat intervensi yang dilakukan Bank Indonesia dengan masuk ke pasar mata uang.
“Kalaupun terjadi capital outflow lagi, tidak masalah karena cadangan devisa kita masih cukup banyak untuk stabilisasi rupiah di level ini,” urai Wafi.
Menurut dia, pasar semestinya tidak mengkhawatirkan sentimen the Fed. Selama kenaikan suku bunga hanya 25 basis poin ataupun bahkan jika tidak dinaikkan, IHSG justru akan menguat.
“Yang dikhawatirkan investor justru perang dagang AS dan Tiongkok serta stabilitas politik di AS,” jelas dia.
Kedua hal tersebut dapat berdampak pada pasar Indonesia. Market mengkhawatirkan kondisi politik AS akibat terkuaknya skandal pencurian data 50 juta pengguna Facebook yang diduga dipakai untuk kepentingan pemilihan Presiden AS 2017 lalu.
Selain itu, langkah Presiden Trump mengucapkan selamat atas kemenangan Vladimir Putin yang kembali terpilih sebagai Presiden Rusia mendapat kecaman dari Kongres AS.
“Investor harus waspada ini terutama dampaknya terhadap rupiah,” jelas Wafi.
Saat ini menurut Wafi, investor masih mengamati perkembangan politik global dan AS, selain juga memperhatikan kinerja masing-masing emiten domestik.