İqbal Musyaffa
22 Maret 2018•Update: 23 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Meskipun bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed) telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 0,25 persen menjadi 1,5-1,75 persen seusai pertemuan Federal Open Market Committee pada Rabu, kondisi ini tidak akan berpengaruh banyak terhadap pergerakan rupiah.
Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan kepada Anadolu Agency, Kamis, mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih akan stabil pada kisaran Rp13.700-Rp13.800.
“Mata uang di Asia tidak terlalu terpengaruh banyak. Rupiah masih akan terjaga di kisaran tersebut,” Evan menganalisa.
Menurut dia, Bank Indonesia (BI) diperkirakan juga masih akan mempertahankan suku bunga acuan 7 days repo rate di level 4,25 persen seperti di bulan Januari dan Februari. Rencananya, BI akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur terkait suku bunga pada sore nanti.
Evan mengatakan, yang menarik untuk dicermati adalah kemungkinan langkah agresif Jerome Powell yang berencana menaikkan suku bunga acuan menjadi 2,9 persen di tahun 2019 hingga 3,4 persen pada 2020.
Apabila kenaikan konstan dilakukan sebesar 25 basis poin, menurut dia, maka the Fed masih akan menaikkan lagi suku bunga pada tahun ini sebanyak dua kali. Kemudian pada 2019 dan 2020, masing-masing akan terjadi kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali.
“Sebelumnya Powell berencana menaikkan suku bunga empat kali pada tahun ini. Tapi ternyata hanya tiga kali,” jelas dia.
Menurut dia, Powell mempertimbangkan aspek fundamental ekonomi AS terlebih dahulu dalam memutuskan kenaikan suku bunga. Salah satunya adalah data ketenagakerjaan AS yang meskipun bagus, tapi pertumbuhannya tidak signifikan.
Selain itu, inflasi AS juga ditargetkan hanya 1,9 persen pada tahun ini. “Mereka menunggu data stabil dulu baru menaikkan suku bunga,” urai Evan.
Terkait rencana agresif Powell hingga 2020 dan dampaknya terhadap rupiah, menurut dia sangat tergantung dengan langkah yang diambil BI. Dalam beberapa bulan ke depan, dia memperkirakan titik tertinggi rupiah di angka Rp13.825 per dolar AS.
Namun, dia memperkirakan hingga 2020 nanti obligasi Indonesia bermata uang dolar AS akan tertekan karena terjadi peningkatan yield obligasi AS.
“Kepemilikan obligasi Indonesia oleh orang asing dalam beberapa bulan terakhir sudah turun Rp20-30 triliun,” tambah dia.