Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Pengusaha dari Indonesia dan Uni Eropa, pada Selasa, menggelar pertemuan EU-Indonesia Business Dialoge (EIBD) ke-7 di Jakarta. Ada sekitar 200 perwakilan pemerintah dan pemimpin bisnis yang berdialog mengindentifikasi dan menciptakan peluang baru perdagangan dan investasi antara Indonesia-EU dalam Comprehensive Economic Partnership Agrement (CEPA).
“Masih banyak potensi yang belum tersentuh dalam hubungan perdagangan keduanya,” ujar EU Deputy Chief Negotiasor, Filip Deraedt.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut negosiasi putaran ketiga CEPA UE-Indonesia yang diselenggarakan September lalu di Brussel.
Chairman Eurocham Ulf Backlund mengatakan, dengan kerja sama ini, pelaku bisnis di Indonesia bisa menyasar Uni Eropa sebagai pasar produk mereka. Namun, hal ini belum diatur sepenuhnya karena perundingan perdagangan belum selesai.
“Namun, sektor bisnis sebenarnya sudah bisa memulai perjanjian jangka pendek,” ujarnya.
Beberapa isu penting yang harus dibahas antara lain kebutuhan tentang mobilitas tenaga kerja terlatih antara Uni Eropa dan Indonesia, pengurangan hambatan dan harmonisasi prosedur serta persyaratan teknis impor.
Menurut Backlund, ada beberapa karakteristik investasi langsung dari Uni Eropa ke Indonesia yang menguntungkan. Pertama, investasi tersebut selalu berkolaborasi dengan mitra lokal untuk mendukung aktivitas produksi. “Ini menstimulasi pertumbuhan industri domestik,” kata dia.
Perusahaan Uni Eropa, kata Backlund, juga terbuka untuk berbagai teknologi dan inovasi, sehingga bisa menjadi referensi bagi pelaku usaha kecil menengah dan mikro di Indonesia. Selain itu, investasi dari Uni Eropa biasanya juga berorientasi jangka panjang dan menggunakan teknologi mutakhir.
“Investasi ini menekankan banyak aspek kualitas, terutama sumber daya manusia,” ujarnya.
Pada tahun 2016, Uni Eropa adalah tujuan ekspor dan asal impor nonmigas terbesar ke-3 bagi Indonesia, dengan nilai masing-masing sebesar USD 14,4 miliar dan USD 10,7 miliar. Total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa mencapai USD 25,2 miliar.
Selama kurun waktu lima tahun terakhir, neraca perdagangan kedua ekonomi menunjukkan surplus bagi Indonesia. Sementara nilai investasi Uni Eropa di Indonesia senilai USD 2,6 miliar.
Kepala Negosiator Indonesia Iman Pambagyo mengatakan, semua hal tersebut akan dipertimbangkan dalam negosiasi CEPA yang kini tengah berlangsung. “Masukan dari sektor bisnis akan jadi pertimbangan kita,” ujarnya.
news_share_descriptionsubscription_contact

