Muhammad Latief
JAKARTA
Ujang, 38 tahun, seorang pegawai negeri, ingin berkurban pada Hari Raya Iduladha tahun ini. Dia pikir sudah waktunya menyisihkan sebagian hartanya agar bisa berbagi kebahagiaan menyantap daging dengan sesama, terutama orang yang kekurangan.
“Katanya berkurban itu membuat sifat binatang dalam diri kita hilang,” ujar dia.
Dana sudah ada. Dia kumpulkan dari sisa Tunjangan Hari Raya (THR) Lebaran lalu ditambah hasil menyisihkan gajinya selama beberapa bulan, cukup untuk membeli seekor kambing besar.
Setelah uang terkumpul, Ujang malah galau. Dia bingung menentukan apakah akan berkurban ke masjid dekat perumahannya atau menyalurkan melalui lembaga zakat dengan berbagai platform pembayaran digital.
Ujang melihat banyak kemudahan dengan berkurban melalui berbagai platform digital. Tinggal klik, dia sudah bisa menunaikan ibadah yang meneladani keikhlasan pengorbanan Nabi Ibrahim ini. Dia tidak perlu repot-repot pergi ke pasar hewan atau ke tempat penjualan untuk membeli hewan kurban. Daging hewan kurbannya juga bisa tersebar jauh ke pelosok pedesaan, ke tempat-tempat yang benar-benar membutuhkan.
“Nanti kita putuskan bareng istri, mau kurban lewat musala atau pakai layanan digital,” ujar dia.
Lain lagi cerita Fitriansyah. Dia sejak awal sudah memutuskan kurban tahun ini disalurkan lewat Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) secara digital lewat laman baznas.go.id. Aan, panggilan Fitriansyah ini sudah beberapa kali berkurban, kebanyakan dia salurkan melalui masjid dan lembaga amil zakat secara langsung, pengalaman kurban digital adalah pertama kali baginya.
Untuk satu ekor kambing seharga Rp2,5 juta, tidak ada biaya tambahan apa-apa lagi. Baznas menyediakan berbagai metode pembayaran banking channel, yaitu transfer ke berbagai nomor rekening mulai CIMB, BNI atau Bank Mandiri. Metode lain adalah e-pay BRI.
Meski hanya transfer, Aan akan tahu bentuk dan ukuran hewan kurbannya. Aan juga tahu di mana kurbannya disembelih dan siapa saja yang menerimanya.
“Baznas nanti akan mengirim foto hewan kurban dengan nama saya. Jadi saya tahu ukuran hewan kurbannya dan di mana disembelih,” ujar dia.
Berkurban di zaman sekarang, memang tak lagi menjadi urusan masjid, musala di kampung-kampung atau lembaga zakat saja. Kini umat muslim bisa lebih mudah berkurban dengan berbagai platform digital, seperti e-commerce, teknologi finansial (tekfin) atau banking channel.
Situs e-commerce Tokopedia menyediakan beberapa kanal lembaga amil zakat untuk menyalurkan kurbannya, tidak hanya BAZNAS. Situs ini membuat kanal khusus yaitu “Tokopedia kurban” yang juga bekerja sama dengan ACT, Lembaga Zakat Al Azhar, Dompet Dhuafa, Marinagrow, Nu Care-Lazisnu, PKPU Human Initiative, Rumah Yatim dan Rumah Zakat.
Harga hewan kurban yang ditawarkan mulai Rp1,7 juta hingga Rp2,5 juta untuk kambing. Ada juga kambing yang disalurkan ke Gaza, Palestina, seharga Rp4,7 juta. Sedangkan untuk sapi mulai dari Rp17 juta hingga Rp24 juta per ekor. Ada juga kurban yang lebih besar yaitu Rp24,7 juta untuk seekor unta.
Pada platform crowdfunding kitabisa.com, saat memasukkan kata kunci kurban ditemukan 35 campaign yang mengumpulkan dana untuk membeli hewan kurban. Salah satunya, “Sedekah kurban untuk korban gempa Lombok” yang sudah mengumpulkan dana hingga Rp68 juta.
Memperbanyak pintu pembayaran kurban
Deputi Baznas Arifin Purwakananta mengatakan digitalisasi kurban adalah upaya mempermudah para pekurban menunaikan ibadahnya. Baznas secara khusus membuka kanal kurban di laman resminya untuk melayani pekurban.
Lembaga zakat milik negara ini juga menggandeng e-commerce Tokopedia, Shopee, Elevenia, Lazada, Blibli dan media sosial Line. Platfom tekfin OVO juga digandengnya.
Arifin optimistis, masyarakat akan menyambut baik inovasi ini karena mudahnya membeli kurban secara online.
“Masyarakat semakin dekat dengan gaya hidup digital. Jadi beribadah pun bisa dengan bantuan teknologi seperti ini,” ujar dia.
Baznas sengaja memperbesar platform donasi digitalnya untuk mendekatkan pada masyarakat yang makin akrab dengan teknologi. Meskipun, jumlah pendapatan dari sektor digital ini sebenarnya kecil dibanding dengan total perolehan zakat infak dan sedekah Baznas.
Namun, tiap tahun segmen ini terus tumbuh, terjadi pergeseran signifikan, para pembayar konvensional beralih menjadi pembayar digital. Menurut Arifin, pada 2016 Baznas baru menerima sekitar 1 persen zakat digital, namun pada 2017 sudah mencapai 12 persen dari total penerimaan zakat infak dan sedekah.
Tahun ini, Baznas menargetkan menerima 2.000 ekor hewan kurban yang akan disebar ke 24 provinsi. Mereka akan melibatkan “Balai Ternak BAZNAS” sebuah program pemberdayaan ekonomi peternak yang tersebar pada tujuh provinsi, yaitu Sumatera Utara, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kurban digital juga menarik masyarakat perkotaan, kata Komisioner Baznas Nana Mintarti. Menurut dia, karakteristik masyarakat kota lebih menyukai kemudahan-kemudahan dan era digital menawarkan kemudahan transaksi keuangan, seperti internet banking, e-banking atau mesin ATM.
“Beberapa tahun belakangan lembaga filantropi banyak yang memanfaatkan teknologi tersebut.”
Menurut Nana, kemudahan teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk mengubah tindakan masyarakat yang sebelumnya hanya “mampu berkurban” menjadi “benar-benar ingin berkurban”.
“Biasanya masyarakat kota ingin menyalurkan kurbannya ke daerah asal, sehingga dipilih lembaga yang mampu menyalurkan ke sana. Ini bentuk pengabdian untuk kampung halaman,” ujar dia.
Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa juga mendekati segmen ini dengan membuka layanan kurban digital mulai tahun ini. Strateginya kurang lebih sama, yaitu menggandeng platform e-commerce untuk menawarkan pengalaman berkurban yang cepat, ringkas dan dapat dilakukan di sela-sela kesibukan.
Kanal kurban mereka “kurbanesia” menawarkan beberapa paket mulai dari kambing, sapi hingga kurban yang dikirim ke Rohingya, Suriah dan Palestina.
“Ini lebih untuk memudahkan pekurban dengan banyak pintu transaksi. Peminatnya cukup banyak,” ujar dia.
Tahun ini mereka menargetkan kurban sebanyak 25 ribu kambing atau setara kambing.
Lembaga Zakat Infak dan Sekedah Muhamadiyah (Lazismu) juga melakukan strategi yang sama meski masih minim platform. Kordinator Nasional Kurban Lazismu Edi Muktiono mengaku generasi digital ini adalah salah satu targetnya.
“Harus mengikuti perkembangan zaman. Eksekutif muda, kaum milenial akrab dengan dunia digital, kita harus masuk,” ujar dia.
Presiden Direktur OVO Adrian Suherman mengatakan kerja sama pembelian hewan kurban ini membawa perusahaannya mendekati visi “tersedia di mana saja dan bagi siapa saja”.
“Dengan semakin banyak tempat yang menerima OVO sebagai platform pembayaran, salah satunya layanan donasi,” ujar dia.
OVO menurutnya mempunyai 60 juta basis pengguna yang bisa menjadi calon potensial pekurban atau penyumbang kegiatan kemanusiaan lainnya.
“Kami membantu lembaga filantropi menjangkau basis pengguna kami dan membantu mereka berdonasi dengan lebih mudah dan pada lembaga yang terpercaya, “ujar dia.

Ekonomi Kurban
Ibadah kurban tidak bisa dilihat hanya ritual ajaran Islam semata, namun juga mempunyai makna ekonomi yang kuat.
Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah (PEBS) Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Indonesia (UI) Rahmatina Awaliah Kasri ibadah kurban melibatkan rangkaian rantai pasokan dan aktivitas ekonomi seperti produksi, konsumsi dan distribusi daging ternak.
“Aktivitas ekonomi berpotensi meningkatkan pendapatan, kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat,” ujar dia.
Menurut dia, peningkatan permintaan pada ternak akan memicu penambahan jumlah peternak dengan skala mikro yang berarti bisa mengurangi pengangguran. PEBS menganalisis angka multiplier kerja pada seekor ternak adalah 0,227. Artinya, setiap penambahan modal Rp100 juta pada sektor ini akan meningkatkan penyerapan tenaga kerja 2,7 orang.
Sektor lain yang terkait dengan ternak, seperti industri pangan, pengolahan hasil ternak juga akan bergerak.
Selain itu, saat ini sudah banyak lembaga yang melakukan pemberdayaan peternak kecil secara komprehensif di pedesaan. Dengan modal paling tidak Rp1 juta maka pendapatan peternak akan naik sebesar Rp312 ribu.
“Jadi kurban bisa mengurangi angka kemiskinan. Bahkan bisa menguatkan industri makanan halal,” ujar dia.
Ekonom dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Irfan Syauqi Beik mengatakan ada beberapa implikasi ekonomi dari ibadah kurban. Pertama soal peningkatan permintaan hewan ternak yang naik dari tahun ke tahun ini memberi sinyal untuk melakukan penataan dari sisi penawaran. Yaitu dengan memberdayakan petani-peternak yang masuk dalam kategori usaha kecil menengah dan mikro (UMKM).
Dari sisi ketahanan ekonomi, kurban bisa menjadi instrumen menjaga keseimbangan perekonomian domestik menghadapi tekanan krisis global. Yaitu dengan meningkatkan produksi ternak dalam negeri.
“Daging kurban ini bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Jadi kelompok miskin mendapatkan pasokan daging yang siap dikonsumsi,” ujar dia.
Hal ini penting karena saat ini konsumsi daging per kapita masyarakat Indonesia baru tergolong rendah. Data dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 2018 konsumsi daging per kapita Indonesia baru 1,9 kilogram (kg) untuk sapi dan 0,4 kg untuk kambing. Bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 5,5 kg untuk sapi dan 1,2 kg untuk kambing.
“Jadi meski setahun sekali, kurban memberi kesempatan orang mengonsumsi daging dan terpenuhi nutrisinya,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact

