Muhammad Nazarudin Latief
27 Maret 2018•Update: 27 Maret 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Industri semen dalam negeri berusaha meningkatkan efektivitas dan efisiensi produksi agar bisa bersaing dalam kondisi oversupply di setiap negara di kawasan ASEAN.
Direktur teknik Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Benny Wendry mengatakan perusahaan semen di Indonesia berusaha menggunakan bahan bakar alternatif dari limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Menurut Benny, pabrik semen harus diakui adalah penyumbang emisi gas rumah kaca paling besar, setelah pembangkit listrik. Untuk menghasilkan 1 ton semen, dibutuhkan 90-100 kilowatts listrik.
“Industri punya tugas menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 5 persen pada 2020,” ujar dia saat menjelaskan persiapan The 25th Technical Symposium and Exhibition “Green Technology for Cement Industry” di Jakarta, Senin.
Menurutnya, industri semen Indonesia mulai mencari-cari alternatif bahan bakar yang efektif dan mengurangi konsumsi batu bara. Beberapa alternatif antara lain sekam padi, cangkang kelapa sawit.
Sumber tenaga listrik, juga akan diproduksi sendiri dengan Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) atau pemanfaatan gas buang. Sistem ini sudah dipraktikan di Pabrik Semen Indonesia Tuban, Jawa Timur untuk mengurangi emisi CO2.
Menurut Ketua ASI Widodo Santoso acara “The 25th Technical Symposium and Exhibition” juga merupakan salah satu cara mencari teknologi paling efektif untuk mengubah industri semen agar makin hijau.
Menurutnya, simposium dan eksebisi ini akan menampilkan presentasi dari 22 ahli semen dunia dengan tema seperti new technology for crusher, carbon di-oxida reducing initiative, energy efisiency in the process production dan waste heat recovery generation.
Pameran ini akan diikuti oleh 50 perusahaan machinary supplier di Asia dan Eropa.