İqbal Musyaffa
06 Maret 2018•Update: 06 Maret 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Pemerintah perlu terus menggenjot penerimaan devisa di tengah volatilitas ekonomi global.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong mengatakan, salah satu sumber penghasil devisa terbesar saat ini adalah pariwisata.
Dia melihat potensi investasi di sektor pariwisata dan gaya hidup masih bisa ditingkatkan. Pada tanggal 14 Maret mendatang, BKPM akan menyelenggarakan regional investment forum dengan mengundang 550 investor dalam dan luar negeri untuk membahas peluang investasi di dua sektor tersebut.
“Pariwisata dan gaya hidup mampu menyentuh masyarakat hingga ke level paling bawah dengan pertumbuhan paling menjanjikan,” jelas dia di Jakarta, Selasa.
Pada tahun 2017, pertumbuhan sektor pariwisata sebesar 31 persen dengan nilai USD1,7 miliar.
Selain pariwisata, dengan adanya pelemahan rupiah saat ini, maka reformasi kebijakan dan modernisasi sistem dan rezim perizinan investasi di BKPM menjadi semakin mendesak.
“Kepercayaan investor bisa diperoleh melalui kebijakan yang rasional, progresif, serta reformis di tengah tingginya ketidakpastian moneter dan fiskal secara global,” jelas Lembong.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah menurut dia juga membuat pengembangan sektor berorientasi ekspor menjadi penting karena pasar pasti akan melihat cadangan devisa Indonesia untuk menilai besar kecilnya dan tren pertumbuhan ekonomi.
Lembong juga melihat pelemahan terhadap nilai tukar rupiah tidak akan mengganggu masuknya investasi ke dalam negeri. Justru pelemahan ini dapat dimanfaatkan oleh investor asing dan eksportir.
Dengan melemahnya rupiah, menurut dia, membuat barang produksi Indonesia lebih murah jika dikonversi ke dalam dolar AS. Begitupun dengan investasi asing di Indonesia menjadi lebih murah.
“Pelemahan ini tidak masalah asal masih dalam kisaran yang stabil,” imbuh Lembong.