İqbal Musyaffa
15 Agustus 2018•Update: 15 Agustus 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Kementerian Keuangan pada Selasa mengumumkan hingga Juli realisasi penerimaan negara dan hibah mencapai Rp994,36 triliun atau 52,48 persen dari target yang ditetapkan di APBN.
Dalam asumsi makro APBN tahun ini disebutkan target pendapatan negara dan hibah sebesar Rp1.894,7 triliun.
Pendapatan yang diterima hingga Juli tersebut, menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, terdiri dari Rp991,1 triliun pendapatan dalam negeri dan Rp3,3 triliun dari penerimaan hibah.
Menteri Sri menambahkan, pencapaian penerimaan negara hingga Juli tahun ini lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada tahun lalu, realisasi penerimaan sebesar Rp853,8 triliun atau 49,18 persen dari target.
"Pertumbuhannya 16,5 persen dari tahun lalu," ujar Menteri Sri.
Penerimaan negara pada tahun ini, menurut dia, terdiri dari penerimaan perpajakan dan bea cukai hingga akhir Juli sebesar Rp780,05 triliun atau 42,21 persen dari target perpajakan.
“Sementara penerimaan negara bukan pajak yang terealisasi sebesar Rp221 triliun dari target sebesar Rp275,4 triliun,” urai Menteri Sri.
Lebih lanjut Menteri Sri mengatakan, harga komoditas minyak bumi dan batu bara yang meningkat menjadi penyebab utama dari meningkatnya pendapatan negara dari pajak.
Pergerakan harga minyak mentah rata-rata pada Juli 2018, menurut dia, mencapai USD70,68 per barel. Dengan begitu, rata-rata ICP selama semester I 2018 tercatat USD67,1 per barel.
“Peningkatan harga minyak tersebut memberi dampak positif bagi kinerja penerimaan migas,” imbuh dia.
Lebih lanjut, Menteri Sri menjelaskan bahwa kinerja belanja negara hingga Juli terealisasi Rp1.145,7 triliun atau 51,6 persen dari target APBN.
Angka tersebut terdiri dari Rp697,02 triliun belanja pemerintah pusat yang tumbuh 15,26 persen dan transfer ke daerah sebesar Rp 448,64 triliun yang turun 2,28 persen.
Berdasarkan realisasi tersebut, Menteri Sri mengklaim kinerja APBN tahun ini sangat positif.