İqbal Musyaffa
06 Juni 2018•Update: 07 Juni 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Selama periode Ramadan hingga tanggal 5 Juni, terjadi peningkatan peredaran uang hingga Rp88,3 triliun atau naik 13,4 persen dari sebelum Ramadan, berdasarkan informasi dari Bank Indonesia.
Sebelum Ramadan, tercatat uang yang beredar sebanyak Rp657,6 triliun dan hingga 5 Juni menjadi Rp745,9 triliun. Secara keseluruhan uang yang beredar, 92,9 persen di antaranya adalah uang pecahan besar dan 7,1 persen sisanya pecahan kecil.
Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, mengatakan kebutuhan uang kartal pada periode Ramadan dan Idul Fitri mencapai 25 persen dari peredaran tahunan yang terus meningkat.
“Kebutuhan uang selama periode tersebut biasanya naik 13,9 persen per tahun. Tapi untuk tahun ini kita siapkan hingga 15,3 persen,” jelas Rosmaya.
Pada tahun lalu, BI mempersiapkan uang kartal pada periode Ramadan sebesar Rp163,2 triliun yang meningkat menjadi Rp188,2 triliun pada tahun ini.
“Peningkatan kebutuhan uang tunai kita naikkan karena kita persiapkan liburan panjang yang totalnya 12 hari libur,” imbuh dia.
Hingga 5 Juni, Rosmaya mengungkapkan penyerapan uang tunai yang disiapkan BI sudah mencapai 58,4 persen atau sebesar Rp110 triliun. Dia menyatakan jumlah yang disiapkan BI akan mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Kita yakin jumlahnya cukup karena waktu krusial penukaran uang tinggal dua hari lagi sebelum masyarakat mudik,” lanjut Rosmaya.
Penyerapan uang kartal yang disiapkan BI urai Rosmaya, Rp95,7 triliun atau 87 persen dilayani oleh perbankan. Sementara penarikan uang melalui kantor kas titipan sebanyak Rp13,5 triliun atau 12,3 persen, dan penukaran uang melalui loket BI dan kas keliling sebanyak Rp760,8 miliar atau hanya 0,7 persen.
“Peredaran uang selama Ramadan lebih banyak di Jawa non-Jabodetabek dengan porsi 38,4 persen. Sementara di Jabodetabek sebanyak 22,8 persen, Sumatera 19,9 persen, dan kawasan timur sebanyak 18,9 persen,” urai dia.