İqbal Musyaffa
25 Oktober 2019•Update: 28 Oktober 2019
JAKARTA
Bank Indonesia mengatakan pertumbuhan kredit perbankan pada triwulan III berdasarkan survei perbankan 2019 melambat.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan berdasarkan Survei Perbankan Bank Indonesia, saldo bersih tertimbang permintaan kredit baru pada triwulan III yang sebesar 68,3 persen lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 78,3 persen.
Berdasarkan hasil survei, perlambatan tersebut bersumber dari kredit investasi dan kredit konsumsi.
“Survei itu juga mengindikasikan bahwa pada triwulan IV 2019 pertumbuhan kredit baru diperkirakan meningkat didorong oleh optimisme terhadap kondisi moneter yang longgar serta ekonomi yang menguat, sementara risiko penyaluran kredit juga terjaga,” jelas Perry di Jakarta, Jumat.
Perry mengatakan kebijakan penyaluran kredit dari perbankan pada triwulan IV diperkirakan akan lebih longgar yang terindikasi dari indeks lending standard sebesar 11,8 persen lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 12 persen.
Dia menjelaskan pelonggaran tersebut terutama pada kredit kepemilikan rumah dan apartemen, kredit investasi, dan kredit UMKM.
“Dari hasil survei itu mengindikasikan bahwa untuk pertumbuhan kredit seluruh tahun 2019 sebesar 9,7 persen dan belum sekuat perkiraan sebesar 10-12 persen,” kata Perry.
Akan tetapi, dia mengatakan pembiayaan kredit dari pasar modal tumbuh lebih pesat yang berasal dari penerbitan obligasi korporasi, earning back asset, sukuk, maupun dari penerbitan medium term note.
Oleh karena itu, Perry mengatakan akan berkomunikasi dengan perbankan dan juga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar penurunan suku bunga acuan BI dalam 4 bulan terakhir yang sebesar 100 basis poin bisa segera diikuti oleh penurunan suku bunga di perbankan sehingga bisa mendorong permintaan dalam penyaluran kredit perbankan.
Dia menjelaskan dari sisi kredit perbankan baru mengalami penurunan 26 basis poin pada suku bunga deposito sehingga BI berharap dapat segera diturunkan kembali karena suku bunga acuan telah turun 100 basis poin.
“Perbankan butuh waktu untuk menyesuaikan suku bunga deposito,” kata Perry.
Sementara itu, penurunan suku bunga kredit juga baru sebesar 8 basis poin yang memang pada biasanya mengalami penurunan lebih lama daripada suku bunga deposito.
“Kecenderungannya kami harapkan perbankan bisa turunkan lebih lanjut suku bunga deposito dan kredit agar pembiayaan kredit bisa meningkat,” imbuh Perry.