İqbal Musyaffa
03 Mei 2018•Update: 03 Mei 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Menteri Keuangan Sri Mulyani bertemu dengan CEO JP Morgan Jamie Dimon di Jakarta, Rabu, untuk membahas berbagai isu terkait perekonomian global.
“Kita membahas mengenai pandangan tentang perekonomian ekonomi dunia terutama dikaitkan dengan suasana yang saat ini terjadi di Korea Utara dan Selatan, perekonomian di Tiongkok, dan perekonomian di AS,” ungkap Menteri Sri.
Dia menambahkan, dalam pembahasan tersebut juga disinggung mengenai peranan perbankan JP Morgan dalam melihat prospek ekonomi dunia serta upaya untuk membangun infrastruktur.
“Infrastruktur yang dibangun oleh beberapa negara termasuk Indonesia dalam hal ini membutuhkan banyak sekali pembiayaan dan juga pengalaman dari negara lain yang bisa kita lihat supaya kia bisa menjalankan pembangunan yang tetap prudent dan sustainable,” tambah Menteri Sri.
Pertemuan tersebut, lanjut Menteri Sri, juga membahas kebijakan negara-negara yang memiliki potensi untuk maju dan berkembang dalam kurun waktu 50 tahun ke depan.
“Korsel dan Singapura menjadi negara high income dibandingkan dengan negara lain tapi mereka tidak bisa berkembang, padahal punya natural resources yang lebih besar. Kemudian kita melihat apa saja komponennya,” tambah dia.
Aspek regulasi juga tidak lepas menjadi topik perbincangan keduanya. Menteri Sri menegaskan bahwa aspek regulasi menjadi isu yang penting.
“Jamie Dimon lebih membahas mengenai negara-negara yang dianggap memiliki regulasi berbelit-belit seperti AS sendiri,” ujar dia.
AS, menurut Menteri Sri, dianggap Dimon sebagai negara dengan regulasi berbelit karena untuk menjadi seorang tukang cukur saja membutuhkan tiga perizinan yang berbeda.
“Ini menyebabkan betapa sulitnya perusahaan untuk memiliki inisiatif dan inovasi,” lanjut Menteri Sri.
Menteri Sri juga menyampaikan kepada Dimon bahwa Presiden Indonesia menegaskan untuk terus melakukan simplifikasi perizinan dengan memangkas lebih dari 42 ribu regulasi serta memperpendek jangka waktu proses perizinan agar kegiatan ekonomi di Indonesia dapat berkembang.
“Saya rasa Dimon datang ke sini dalam rangka 50 tahun JP Morgan di Indonesia dan sebagai bentuk pemahaman bahwa Indonesia adalah negara besar dan dianggap prioritas bagi JP Morgan,” ungkap dia.
JP Morgan bahkan diklaim Menteri Sri akan membawa dana sebesar USD10 miliar ke Indonesia dengan sangat mudah karena Indonesia dianggap memiliki potensi luar biasa.
“Kebijakan ekonomi kita dianggap make-sense, dan ekonominya berkembang menjanjikan,” klaim Menteri Sri.
Satu-satunya hal yang perlu diperbaiki oleh pemerintah Indonesia, menurut dia, adalah terkait penyelesaian sengketa bisnis.
“Jadi kalau ada percekcokan atau ketidaksepakatan antara investor dengan partnernya, bagaimana cara menyelesaikannya, ini menjadi salah satu sorotan,” tegas Menteri Sri.