Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
12 Agustus 2018•Update: 13 Agustus 2018
Diyar Guldogan
ANKARA
Ancaman dan sanksi terhadap Turki tidak akan berhasil, ujar juru bicara presiden Ibrahim Kalin pada Sabtu.
"AS berisiko untuk kehilangan Turki. Seluruh warga Turki melawan kebijakan AS yang mengabaikan tuntutan keamanan Turki.
"Ancaman, sanksi dan gertakan melawan Turki tidak akan berhasil. Hal tersebut hanya akan semakin membulatkan tekad Turki. Namun hal tersebut akan mengisolasi AS di Turki dan dunia internasional," tulis Kalin dalam kolom mingguan di koran berbahasa Inggris Daily Sabah.
Pernyataan Kalin muncul setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan serangannya kepada Turki dengan menggandakan tarif impor aluminium dan baja menjadi 20 persen dan 50 persen.
Kalin mengatakan pemerintahan Trump terlibat dalam persengketaan dengan Kanada, Meksiko, Kuba, Tiongkok, Rusia, NATO, Jerman dan negara lainnya karena alasan domestik.
"Hal ini hanya akan menghancurkan kredibilitas AS sebagai sekutu dan mitra yang dapat diandalkan. Persepsi tersebut tidak berubah di Turki," tambah dia.
Kalin mengatakan krisis dengan pemerintahan Trump terkait dengan pastor dan fluktuasi pasar mata uang tidak akan mengurangi tekad Turki.
Hubungan Turki dan AS sedang mengalami masa kelam setelah Washington memberikan sanksi kepada Menteri Dalam Negeri Suleyman Soylu dan Menteri Kehakiman Abdulhamid Gul karena menolak melepaskan pastor Amerika Andrew Brunson, yang sedang menghadapi tuduhan terorisme di Turki.
"Bahwa lira Turki kehilangan nilainya terhadap dolar AS adalah sebuah masalah. Tapi, ini adalah sebuah masalah yang Turki siap untuk lawan. Isu yang ada, bagaimanapun, lebih besar dari sekadar perang mata uang," ujar Kalin.
Dia menambahkan usaha Turki untuk menyelesaikan persoalan Brunson melalui jalur diplomasi telah ditolak oleh AS.
"Niat baik Turki dan pendekatan yang berorientasi kepada hasil telah dikesampingkan oleh sikap ideologis dan pendekatan 'cara saya atau cara tinggi' Gedung Putih Trump," ujar dia.
Kalin juga mengatakan perhatian Turki terhadap keamanan, terkait hubungan AS dengan PKK cabang Suriah -- Partai Persatuan Demokratik (PYD) dan Unit Perlindungan Masyarakat (YPG) -- dan kehadiran jaringan Organisasi Teroris Fetullah (FETO) di AS, tidak ditangani secara serius oleh sekutu NATO Turki tersebut.
"Baik perjuangan melawan Daesh maupun sistem AS dapat menjadi alasan untuk membenarkan kebijakan dan sikap yang merugikan kepentingan keamanan nasional Turki dan merusak hubungan Turki-AS," tambah Kalin.
Dia menambahkan Turki tidak akan menyerah pada ancaman, tekanan, sanksi atau operasi keuangan terhadap mata uang dan pasar keuangan dan tidak akan menuruti tuntutan orang lain di atas tuntutan keamanannya sendiri.
Kalin mengatakan Turki telah berdiri bersama sekutu NATO-nya melawan semua bentuk terorisme dan bekerja sama dengan mereka untuk menghilangkan ancaman teroris terhadap negara mereka.
"Setelah melihat kudeta militer, serangan teroris dan operasi keuangan, Turki hanya memperkuat tekad dan ketahanannya. Tidak ada ancaman atau serangan yang akan mengubah itu," tambahnya.