Pizaro Gozali
JAKARTA
Perlu pendekatan yang menyeluruh dalam menyelesaikan konflik antara kelompok etnis Rohingya dan masyarakat Rakhine, karena kedua belah pihak sama-sama merupakan korban konflik dan mengalami trauma
Hal tersebut merupakan kesimpulan dari temuan South East Asia Humanitarian Committee (SEAHUM) yang merupakan gabungan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dari Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Komite ini telah berkali-kali terlibat dalam misi kemanusiaan ke Rakhine, Myanmar.
“Masyarakat Rohingya itu trauma dengan penyerangan Oktober 20016 dan masyarakat Rakhine trauma dengan tahun 2012 ketika desa mereka diserang,” kata Wakil Ketua Advokasi SEAHUM, Arif R. Haryono kepada Anadolu Agency di Banten, Senin.
Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya jurang komunikasi yang luas di antara kedua belah pihak.
“Anak Rakhine akan dilarang pergi ke sekolah yang di situ ada anak Rohingya. Begitu pula sebaliknya,” terang Arif yang mengunjungi Sittwe dan Maungdaw, Rakhine, pada April 2017 lalu.
Kondisi sama terjadi pada bidang kesehatan di mana masyarakat Rakhine enggan memberikan bantuan medis kepada etnis Rohingya.
“Di desa Rohingya sudah ada layanan kesehatan, tapi tidak ada warga Rakhine yang mau berdinas di sana,” jelas dia.
Komite ini menyadari kalau sangat penting memastikan kalau kedua belah pihak bisa mendapatkan bantuan kemanusiaan.
“Keduanya merasa sama-sama mengalami kerugian atas konflik ,” jelas Arif, menambahkan SEAHUM melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia sudah berkomitmen membantu rekonsiliasi dengan fasilitas-fasilitas kemanusiaan.
Bantuan muslim tepis kecurigaan
Ternyata masih ada pandangan bahwa sebagai bangsa dengan mayoritas penduduk muslim, Indonesia hanya mau memberi bantuan kemanusiaan kepada etnis Rohingya.
“Lalu kami katakan tunjukkan saja desa Rakhine mana yang harus kami bantu. Mereka sampai kaget dan terperangah,” jelas Arif.
SEAHUM, lanjut Arif, kini sedang menginisiasi friendly market yang bisa diakses etnis Rohingya dan masyarakat Rakhine. “Kedua komunitas nanti boleh berjualan di situ seperti pasar perdamaian dalam konflik Ambon,” kata Arif.
Sebelumnya, Kekerasan kembali terjadi di Rakhine pada Jumat yang mengakibatkan 100 orang tewas usai bentrokan kelompok gerilyawan dan pasukan keamanan Myanmar. Laporan media mengatakan, pihak keamanan Myanmar diduga mengusir ribuan warga Rohingya dengan membakar dan menembaki rumah mereka.
news_share_descriptionsubscription_contact

