İqbal Musyaffa
04 Oktober 2018•Update: 05 Oktober 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang masih tertekan terus menjadi perhatian dan pantauan pemerintah.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Suahasil Nazara seusai peluncuran buku Realizing Indonesia’s Economic Potential di Bank Indonesia, Jakarta, Kamis, mengatakan pelemahan rupiah memiliki beberapa konsekuensi terhadap perekonomian Indonesia.
“Impact pelemahan rupiah terhadap APBN sudah sering disampaikan oleh Menteri Keuangan,” ungkap Suahasil.
Suahasil mengatakan setiap rupiah mengalami pelemahan, pendapatan negara menjadi meningkat, namun pengeluaran juga meningkat. Akan tetapi, efek selanjutnya adalah pendapatan meningkat lebih tinggi dari pengeluaran.
“Jadi kaitannya dengan anggaran, kita melihat impactnya masih manageable. Tapi tentu dampak pelemahan rupiah tidak hanya ke anggaran, melainkan ke ekonomi secara keseluruhan,” urai dia.
Pelemahan nilai tukar secara teoretis menurut Suahasil, akan membuat ekspor menjadi lebih kompetitif. Tetapi di saat bersamaan impor menjadi lebih mahal dan melebar. Pelebaran impor berasal dari bahan baku dan barang modal serta barang konsumsi.
“Banyaknya impor barang modal juga untuk perluasan infrastruktur dan kita melihat dampak pelemahan nilai tukar masih bisa dikelola oleh BI,” imbuh Suahasil.
Sementara itu, Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan rupiah berada di level Rp15.155 per dolar AS seiring dengan menguatnya fundamental dolar AS dan akan membuat level resistan rupiah di angka Rp15.200 per dolar AS.
“Yield SUN 10 tahun diperkirakan akan bergerak naik,” ungkap dia.
Evan menambahkan pergerakan naik yield SUN didorong oleh pelemahan rupiah dan kenaikan yang cukup tajam terhadap yield US treasury.
Yield SUN 10 tahun kemungkinan bergerak di rentang 8,25 persen-8,4 persen, kata dia.