Pizaro Gozali
02 Oktober 2017•Update: 03 Oktober 2017
Pizaro Gozali
JAKARTA
Jumlah kaum muslim di Jepang tak lebih dari 100 ribu orang, namun dari tahun ke
tahun populasi mereka terus bertambah, salah satunya karena faktor pernikahan
antara warga Jepang dengan pendatang muslim.
“Maka saat mereka melahirkan, bertambahlah satu warga muslim Jepang,” ujar Kepala Bagian Politik Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia Takonai Susumu di Jakarta, Senin.
Seiring meningkatnya wisatawan muslim ke Jepang, tren
makanan halal pun kian subur di Jepang. Kini kaum muslim tak perlu khawatir
untuk mendapatkan makanan halal di negeri matahari terbit tersebut.
“Sejak dulu Jepang sudah punya pabrik makanan halal yang memproduksi daging. Mereka juga mendapatkan sertifikat (halal) dari Malaysia dan Indonesia,” ujar dia.
Menurut Takonai basis muslim Jepang berada di Kota Kobe dan
Tokyo, karena awal-awal masjid dibangun berasal dari dua kota tersebut. Kalau
di daerah ada di Hokaido.
“Akhir-akhir ini banyak masjid dibangun,” katanya.
Takonai menjelaskan kehidupan kaum muslim di Jepang tak
berbeda dengan muslim di Indonesia, mereka menjalani ibadah sehari-sehari,
merayakan hari besar keagamaan, dan hidup rukun.
“Warga muslim Jepang hidup bersama komunitas lokal,” jelas dia.
Perwakilan pemuda Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan
pimpinan Pondok Pesantren akan terbang ke Jepang dalam program Japan-East
Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS).
Kegiatan ini, ujar Wakil Duta Besar Jepang Kozo Honsei
bertujuan untuk bertukar informasi mengenai Islam Indonesia dan kebudayaan masyarakat Jepang.
“Untuk memperkuat hubungan Jepang dengan masyarakat Indonesia,” kata Kozo, saat melepas keberangkatan rombongan di Kedutaan Besar Jepang, Jakarta, Senin.