Handan Kazanci dan Talha Ozturk
BELGRADE, Serbia
Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin pada Kamis menyesalkan bahwa umat Muslim "ditampilkan sebagai ancaman terbesar".
Pernyataannya itu diutarakannya di tengah kunjungan ke ibu kota Bosnia dan Herzegovina, Sarajevo, dimana dia menyampaikan pidato bertajuk "Hubungan Islam dan Dunia Barat di Abad ke-21".
Kalin membicarkan apa yang dia pandang sebagai persepsi umum mengenai Islam dan umat Muslim.
"Ketika seorang Muslim menciptakan sesuatu yang indah, mereka dituduh berasal dari sumber lain, karena menurut mereka umat Muslim tidak memiliki kemampuan seperti itu. Karya mereka selalu dituduh bersumber dari budaya Kristen, Yahudi, Afrika atau India," terangnya.
Persepsi itu salah, kata Kalin.
"Negara-negara Muslim bukan negara-negara terkaya dunia. Mereka tidak memiliki militer terbesar. Mereka tidak memiliki senjata penghancur massal. Mereka tidak memiliki teknologi militer termaju, namun tetap dipandang sebagai ancaman terbesar," lanjutnya.
Kalin menerangkan negara-negara Baratlah yang membangun persepsi itu.
Memegang prinsip keragaman untuk 'cegah perang'
"Kita bisa mencegah perang yang tidak diinginkan bila semua menjaga prinsip kesatuan dan keragaman," kata Kalin.
Menurutnya, dunia Islam dan Barat tidak harus berkonflik dan bahkan bisa saling belajar. Sarajevo, kata Kalin, bisa menjadi contoh yang baik untuk pemahaman itu.
Petinggi Turki itu juga menjelaskan mengenai Operasi Ranting Zaitun di Afrin, Suriah, kepada pers di Sarajevo.
Dia mengatakan operasi itu digelar untuk melindungi perbatasan Turki serta kedaulatan Suriah.
Kalin mengatakan operasi itu akan terus berlanjut sampai seluruh wilayah bersih dari teroris dan operasi itu tidak menargetkan etnis Kurdi.
Menurut militer, operasi tersebut bertujuan untuk membentuk keamanan dan stabilitas di sepanjang perbatasan Turki dan wilayah tersebut, memberantas teroris, dan melindungi warga Suriah dari penindasan dan kekejaman teroris.
Operasi tersebut dilakukan dalam kerangka hak Turki berdasarkan hukum internasional, keputusan Dewan Keamanan PBB dan hak pembelaan diri yang tercantum kesepakatan PBB, kata Staf Umum Turki dalam sebuah pernyataan sebelumnya.
Pihak militer juga memastikan bahwa "sangat penting" supaya operasi tidak membahayakan warga sipil.
Afrin menjadi tempat persembunyian utama bagi PYD/PKK ketika rezim Assad di Suriah menyerahkan kota tersebut kepada kelompok teror tanpa pertempuran pada Juli 2012 silam.
news_share_descriptionsubscription_contact

