08 November 2017•Update: 09 November 2017
Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Perdana Menteri Turki tiba di Amerika Serikat (AS) pada Selasa dalam rangka pertemuan tingkat tinggi untuk memperbaiki hubungan antara Washington dan Ankara.
Dalam kunjungan empat hari tersebut, Yildirim akan menemui Wakil Presiden AS Mike Pence pada Kamis.
Keduanya diperkirakan akan membahas hubungan ekonomi dan militer, serta situasi terkini di Suriah dan Irak.
Isu-isu lainnya yang juga akan dibahas, termasuk krisis pengungsi di perbatasan Turki, konflik visa, Daesh, kelompok teror PKK/PYD dan Organisasi Teroris Fetullah (FETO).
Turki telah mengajukan permohonan ekstradisi pemimpin FETO, Fetullah Gulen, yang dituding mendalangi percobaan kudeta Juli 2016 yang menewaskan 250 orang.
Ankara telah mengeluhkan lambannya Washington dalam pemrosesan ekstradisi, walaupun kedua sekutu NATO ini terikat dalam perjanjian ekstradisi.
Kedua pemerintah seringkali berselisih paham mengenai perjuangan melawan Daesh.
Turki memprotes dukungan AS untuk PKK/PYD. Washington memandang PKK/PYD sebagai "sekutu yang andal" dalam perjuangannya melawan Daesh di Suriah.
Selama lebih dari 30 tahun, PKK telah melancarkan kampanye teror atas Turki dan telah menyebabkan lebih dari 40.000 pasukan keamanan dan warga sipil kehilangan nyawa - termasuk lebih dari 1.200 korban jiwa sejak Juli 2015 saja.
Yildirim disambut oleh Duta Besar Turki untuk AS Serdar Kilic setelah menderat di Pangkalan Udara Andrews, 32 kilometer di luar Washington.
Hari ini Yildirim juga dijadwalkan menemui perwakilan media Amerika dan pemimpin bisnis Turki.
Ini adalah kunjungan pertama Yildirim ke AS sebagai PM Turki. Ia didampingi Wakil PM Mehmet Simsek, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu, dan Menteri Energi Berat Albayrak.