Muhammad Nazarudin Latief
29 Juni 2018•Update: 29 Juni 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Aktivitas vulkanik Gunung Agung di Bali menurun drastis setelah hampir 24 jam mengalami peningkatan letusan embusan.
Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rudi Suhendar mengatakan frekuensi dan amplitudo letusan Gunung Agung letusan embusan pada Rabu tidak meningkatkan status kewaspadaan gunung tersebut.
Erupsi pertama, menurut Rudi membuka rekahan di dasar kawah menjadi lebih besar sehingga menjadi jalan bagi erupsi yang terjadi terus menerus. Namun sejak Jumat dini hari frekuensi dan erupsi Gunung Agung sudah menurun drastis.
Menurut dia, penurunan intensitas emisi abu ini ditunjukkan dengan warna asap yang dominan berwarna putih.
“Penurunan intensitas emisi abu mengindikasikan bahwa sistem telah terbuka. Embusan asap putih yang masih terlihat saat ini berasal dari aktivitas efusi lava," jelas Rudy dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
Menurut Rudi emisi gas dan abu secara menerus dari Kamis hingga Jumat ini merupakan bagian dari erupsi yang terjadi, yaitu aliran lava segar ke dalam kawah atau mengalami fase pertumbuhan kubah lava.
Laju penambahan volume lava belum dapat diketahui dan masih menunggu informasi dari citra satelit, kata dia.
“Dengan demikian aktivitas Gunung Agung masih berada dalam level tiga atau siaga,” ujar Rudi.
Rudi meminta masyarakat tidak berada di jalur pendakian atau beraktivitas di seluruh area dengan radius 4 kilometer dari kawah. Selain itu, masyarakat juga diminta menggunakan masker untuk menghindari potensi ancaman bahaya abu vulkanik.
“Waspadai juga aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Agung untuk bahaya sekundernya,” ujar dia.