Hayati Nupus
14 Februari 2019•Update: 15 Februari 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Yayasan Lentera Anak mengungkapkan bahwa audisi bulutangkis berkedok beasiswa yang digelar yayasan CSR perusahaan rokok Djarum merupakan bentuk eksploitasi anak.
Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari mengatakan hasil riset menyimpulkan 68 persen responden menginterpretasikan tulisan merk rokok pada kaos yang dikenakan anak dalam audisi tersebut merupakan pembangunan citra perusahaan.
“Dengan kata lain, Djarum menggunakan tubuh anak untuk mempromosikan produknya,” ujar Lisda, Kamis, di Jakarta.
Sedang 31 persen responden lainnya, lanjut Lisda, menganggap itu sebagai ajang kompetisi badminton.
Begitu pula berdasarkan kelompok usia, kata Lisda, 68 persen reponden berumur kurang dari 18 tahun menyimpulkan bahwa teks merk rokok dalam kaos tersebut adalah pembangunan citra perusahaan.
Selain itu, ujar Lisda, 70 persen responden melihat teks merk rokok pada kaos yang dikenakan peserta audisi itu lewat media konvensional.
Sedang sisanya, imbuh Lisda, 38 persen di tempat umum dan 37 persen di media sosial.
Lisda menuturkan audisi tersebut mengharuskan setiap peserta untuk mengenakan kaos dengan tulisan besar DJARUM pada bagian depan.
Warna sekaligus jenis huruf teks merk rokok itu sama persis dengan warna dan jenis huruf kemasan rokok dengan merk serupa.
Sejak 2006, perusahaan rokok berbasis di Kudus itu menggelar audisi beasiswa bagi anak untuk memperoleh pelatihan bulu tangkis.
Mulanya audisi hanya digelar di Kudus, namun kemudian merambah hingga ke 10 kota di Indonesia.
Pada 2008, peserta audisi tersebut berjumlah 445 anak dan meningkat 13 kali lipat pada 2018 menjadi 5957 anak.
Psikolog klinis Liza Djaprie mengatakan bahwa alam bawah sadar anak merekam apa yagn dipaparkan di sekitarnya secara terus menerus.
Jika dianalisis dengan teori psikologi periklanan, lanjut Liza, anak dipilih sebagai target iklan untuk menjadi konsumen berikutnya.
“Kalau memang murni beasiswa, mengapa tidak dibuat netral dengan tidak menggunakan brand perusahaan rokok, ini teknik marketing yang tidak disadari anak dan orang tua,” kata Liza.
Digelar pada 7 November – 3 Desember 2018, riset Yayasan Lentera Anak melibatkan 514 responden yang tersebar di 29 provinsi di Indonesia.