26 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
Hayati Nupus
Jakarta
WNI yang turut membantu aksi terorisme di Marawi, ujar pengamat terorisme Solahudin, memiliki kemampuan militer mumpuni ketimbang teroris di Indonesia. Terjun langsung dalam aksi perang di Filipina, mengasah dan meningkatkan kemampuan militer sekaligus manajemen tempur mereka.
“Mereka praktek langsung di Marawi, punya pengalaman tempur di sana,” ujar Solahudin kepada Anadolu Agency, Rabu.
Selama ini, teroris di Indonesia dikenal memiliki kemampuan amatiran. Aksi teror mereka lewat bom bunuh diri lebih banyak memakan korban sendiri ketimbang target yang dibidik. Pengetahuan dan pengalaman seperti yang terjadi di Marawi dan wilayah perang teroris Filipina lainnya, sulit diperoleh di Indonesia.
“Mereka kembali membawa pengetahuan baru tentang kemiliteran dan manajemen teror,” kata Solahudin.
Dampaknya, ketika kelak WNI eks Daesh itu kembali ke tanah air, persis seperti kembalinya WNI seusai perang di Suriah. Kualitas aksi mereka meningkat signifikan. Aksi teror mereka lebih berbahaya ketimbang Daesh lain yang tak pernah mengenyam pengalaman perang. “Meski begitu eks Daesh Suriah lebih berbahaya ketimbang eks Daesh Filipina,” katanya.
Pemerintah telah mencatat sejumlah 40-50 orang WNI yang kembali dari Suriah. Sedang dari Filipina sejak 2016 baru sekitar 4-5 orang saja. Migrasi WNI Daesh dari Filipina terbanyak sepanjang 2000-2005. Mereka di antaranya pelaku bom Filipina tahun 2000 Fatur Rahman Al-Ghozi, dan Dulmatin, yang kepalanya dihargai USD10 juta oleh pemerintah Amerika Serikat.