27 Juli 2017•Update: 27 Juli 2017
Hayati Nupus
JAKARTA
Usai pemerintah menutup layanan chat Telegram pada pekan lalu, para teroris beramai-ramai beralih ke aplikasi pesan singkat Glabbr.
Seperti yang dituturkan pengamat terorisme Rakyan Adibrata, muncul ajakan agar para teroris bermigrasi ke Glabbr seusai pemerintah menutup Telegram.
“Mau tidak mau mereka harus beralih ke aplikasi pesan singkat lain agar tak terdeteksi pemerintah,” katanya kepada Anadolu Agency, Rabu malam.
Glabbr merupakan aplikasi pesan singkat asal India yang baru dirilis 11 Juni 2017 lalu. Dengan tampilan mirip aplikasi Telegram, Glabbr menawarkan kerahasiaan seperti Telegram. Pengguna dapat melakukan chat dan berbincang di grup atau melakukan broadcast tanpa perlu berbagi nomor ponsel. Pengguna juga dapat memutuskan kapan dan siapa yang bisa melihat profilnya.
Selain Glabbr, para teroris juga menggunakan aplikasi pesan singkat Signal dan Kik. Signal memungkinkan penggunakan untuk melakukan chat lebih baik ketimbang Telegram. Sedang Kik, sejauh ini baru digunakan di Timur Tengah saja. Belum ditemukan ajakan penggunaan Kik secara langsung di kalangan teroris.
“Umumnya teroris menggunakan lebih dari 1 macam aplikasi pesan singkat,” ujar Rakyan.
Selain aplikasi pesan singkat, mereka juga ramai-ramai beralih dari G-Mail ke Proton Mail. Proton Mail merupakan layanan email open-source berbasis di Swiss yang memiliki tingkat enkripsi tinggi.
Selain password, pengguna juga perlu memasukan 4 digit angka kunci untuk keamanan ganda. Keamanan ganda ini memungkinkan tak ada pihak lain yang bisa masuk Proton Mail selain pengguna, bahkan juga pengembangnya.