Hader Glang
15 Oktober 2017•Update: 16 Oktober 2017
Hader Glang
ZAMBOANGA CITY
Pemimpin tertinggi kelompok militan yang terkait dengan Daesh, yang masuk dalam daftar Teroris Paling Dicari A.S. dilaporkan telah terpojok oleh tentara saat pertempuran sengit di kota Marawi, Filipina, kemarin.
Sejumlah militan anak buah Isnilon Hapilon juga dikabarkan terperangkap oleh pasukan keamanan. Situasi tersebut diungkapkan oleh Komandan Ranao Task Group Kolonel Angkatan Darat Romeo Brawner, yang juga mengatakan bahwa mereka menginginkan pemimpin teroris Abu Sayyaf tersebut hidup atau mati.
“Sebuah penjagaan keamanan telah dibuat ke sekitar wilayah yang ditempati teroris di kota untuk membatasi mereka di satu tempat dan mencegah bala bantuan militan masuk," kata Brawner.
Berdasarkan laporan radio transmisi yang dikirimkan dari area-area konflik, kelompok Abu Sayyaf dan Maute dikabarkan menggunakan tangki gas dan bensin yang tak mudah meledak untuk berlindung dari serangan tentara.
Tentara Filipina juga mengatakan setidaknya ada 80 bangunan lagi di dalam area pertempuran yang perlu dibersihkan. Wilayah pertempuran pun menyusut hingga kini hanya seluas sekitar tiga hektar.
“Operasi militer yang terus berlanjut melawan militan telah menyerang para teroris,” kata Brawner.
Kelompok teror di kawasan Marawi terhitung telah berperang dengan tentara Filipina selama hampir lima bulang. Mereka juga memaksimalkan penggunaan bom dan perangkap jebakan yang di sepanjang jalur tentara - saat mereka menghadapi perlawanan sengit.
Dengan menggunakan anjing pelacak, hingga kini tentara Filipina telah mengumpulkan 28 mayat militan, beberapa alat peledak dan bahan peledak.
Korban tewas militan tercatat meningkat menjadi 813 setelah dua militan lainnya tewas pekan lalu. Sedangkan jumlah korban tewas pemerintah adalah 160 orang sejak pertempuran dimulai.
Tentara Filipina menargetkan serangan tanpa menggunakan pemboman darat militer berat dan juga serangan udara terhadap teroris mengingat masih banyak sandera dan keluarga orang-orang bersenjata tersebut yang non-kombatan.
“Pertimbangan utama kami adalah keamanan sandera dan non-kombatan,” kata Brawner.
Hingga kini, pihak militer yakin bahwa pihaknya dapat merebut kembali kota tersebut pada hari [Minggu] ini. Namun target itu tidak dapat dijadikan sebagai tenggat waktu mengingat banyak nyawa dipertaruhkan dalam situasi ini.
“Kehidupan tentara dan sandera mungkin tidak perlu ditempatkan dalam bahaya jika kita terburu-buru,” kata Brawner.
"Kami akan menetralkan mereka, artinya mereka ditangkap atau mereka menyerah," tukas dia.