Shenny Fierdha
04 November 2017•Update: 05 November 2017
Shenny Fierdha
JAKARTA
Langkah Sayati, 30 tahun, tampak gontai pada Jumat sore itu seiring kakinya menapaki lorong Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Dia datang untuk menjemput jasad Dianah, anak perempuannya yang turut menjadi korban tewas kebakaran pabrik kembang api di Kosambi, Tangerang.
Sesampainya di Posko Post Mortem yang terletak di bagian belakang rumah sakit, Sayati hanya bisa terduduk lemas. Dengan lemah ia menandatangani berkas pengambilan jenazah korban kebakaran PT Panca Buana Cahaya Sukses.
Ledakan dan kebakaran hebat melanda pabrik yang terletak di lokasi pergudangan dan industri kecil di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, pada Kamis pekan lalu. Sebanyak 48 orang tewas, terjebak di tengah api saat bekerja sebagai buruh lepas.
“Anak saya umurnya 15 tahun,” kata Sayati lirih.
Dianah, nama anak perempuannya itu, hanya tamatan sekolah dasar. Namun karena ingin membantu keluarga, Dianah bersikeras untuk bekerja di pabrik nahas itu.
"Awalnya saya tidak mengizinkan, tapi dia memaksa," lanjut Sayati lamat-lamat.
Di pabrik itu, selama tiga minggu Dianah bekerja di bagian pengemasan. Meski honornya hanya Rp55 ribu per hari di minggu pertama, dan turun menjadi Rp40 ribu per hari di dua minggu terakhir, Dianah mengaku betah karena banyak pekerja pabrik yang seumur dengannya.
Dianah tetap rajin bekerja, meski saban hari selama seminggu terakhir sebelum pabrik meledak dia selalu pulang lebih malam. Pabrik sedang mengejar target produksi, katanya. Mungkin karena perayaan Natal dan Tahun Baru yang sudah semakin dekat.
Suryadi, 35 tahun, bapak Dianah yang tinggal terpisah dari Dianah dan ibunya karena sudah bercerai, mengaku bergegas mendatangi lokasi pabrik setelah mendengar berita soal kebakaran itu. Di jalan, dia sempat melihat asap pekat yang membumbung tinggi di atas pabrik.
Sejak hari itu, dunia Sayati dan Suryadi seakan runtuh.
Mengetahui bahwa anak mereka meninggal mendahului orang tuanya memang berat, namun lebih berat lagi ketika mereka tak bisa membawa jasad putri tercinta untuk segera pulang dan menguburkannya dengan layak. Dianah adalah satu dari puluhan korban terbakar – wajah dan tubuh mereka terbakar begitu parah sampai tak bisa dikenali.
Butuh waktu waktu beberapa hari bagi tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri untuk mengidentifikasi Dianah dan memisahkan jasadnya dari korban yang lain. Kali kedua mengunjungi RS ini, Sayati dan Suryadi menyerahkan sampel DNA untuk membantu proses identifikasi Dianah. Sayati bahkan sempat memperlihatkan video Dianah sedang mengaji kepada tim DVI.
"Alhamdulillah, sudah ditemukan jenazahnya. Saya sekarang cuma bisa bersabar," kata Sayati. Sepulang dari RS Polri, jenazah Dianah akan langsung dikuburkan.
Tak berapa lama, pintu Posko Post Mortem terbuka. Dari situ, peti mati yang terbuat dari kayu dengan model sederhana dikeluarkan.
Tak ada bunga atau foto berpigura. Hanya nama Dianah dan nomor register 27/RSPOLRI/0001 yang menunjukkan bahwa remaja pendiam dan rajin mengaji itu kini bersemayam di dalamnya.
Suryadi, bersama lima orang lain, mengangkat peti dan memasukkannya ke mobil jenazah milik RS Polri yang akan membawa mereka ke Tangerang. Sayati turut masuk ke mobil sambil menyeka air matanya yang tak juga kering, isaknya tenggelam oleh raungan sirene.
Mobil jenazah meluncur pergi meninggalkan posko, membawa Dianah ke peristirahatan terakhirnya.