Nicky Aulia Widadio
03 September 2020•Update: 03 September 2020
JAKARTA
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat jumlah dokter yang meninggal selama pandemi Covid-19 bertambah menjadi 105 orang.
Juru bicara IDI Halik Malik menuturkan lima orang dokter meninggal kurun tiga hari terakhir, setelah pada Senin lalu IDI melaporkan 100 dokter meninggal.
Kabar duka terbaru datang dari dokter Ktut Yoga Wira Kusuma yang menghembuskan napas terakhir pada Kamis pukul 05.30 WIB di RSPI Bintaro, Tangerang Selatan.
“Berdasarkan laporan dari rekan-rekan sejawat, kelima dokter positif,” kata Halik melalui pesan singkat pada Kamis.
Pada Rabu malam, IDI bersama sejumlah pejabat pemerintah menggelar doa bersama untuk para dokter yang meninggal.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan pemerintah telah berupaya memenuhi ketersediaan alat pelindung diri (APD) dan kebutuhan lain untuk melindungi dokter sebagai garda terdepan.
“Saya berpesan kepada para dokter untuk betul-betul mematuhi semua standar operasional prosedur yang harus dilalui. Selamatkan dulu diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain,” kata Muhadjir.
Sebelumnya, IDI mengatakan analisis kasus per kasus menunjukkan kesiapan penerapan protokol kesehatan di seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia belum merata.
Pemeriksaan berkala terhadap tenaga kesehatan juga belum berjalan konsisten dan belum optimal.
“Ada yang setelah enam bulan baru satu kali diperiksa, ada juga yang belum pernah. Idealnya kan sekali dua minggu atau setiap bulan di-swab supaya cepat terdeteksi,” kata Halik.
Bertambahnya jumlah tenaga kesehatan yang meninggal dan yang terinfeksi Covid-19 juga mengakibatkan beban fasilitas kesehatan untuk menangani pasien bertambah berat.
Pasalnya, mereka yang terinfeksi harus menjalani isolasi sedangkan sebagian lainnya bekerja melebihi waktu dan harus diistirahatkan akibat kelelahan.
Sementara itu, menambah jumlah tenaga kesehatan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat dan tidak sebanding dengan penambahan jumlah kasus positif.
“Akibatnya sebagian dokter terpaksa bekerja overload dan overtime, kelelahan di tengah minimnya perlindungan,” jelas Halik.
Indonesia merupakan negara dengan rasio dokter terendah di Asia Tenggara, yakni 0,4 dokter per 1.000 penduduk berdasarkan data Bank Dunia pada 2018.
Kehilangan 105 dokter sama dengan hilangnya akses 262.500 penduduk terhadap dokter.